Kepala ARC: Aceh Harus Menikmati Keunggulan Nilam

Nilam di Aceh dikenal sejak masa penjajahan Belanda. Bahkan sebuah perusahaan di Belanda menjadikan nilam sebagai akronim perusahaan yang mengurusi tata niaga nilam, Nedherland Indische Landbow Maskapaij.


“Pada saat itu, nilam menjadi komoditas unggulan yang dikembangkan oleh Belanda,” kata Kepala Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala, Syaifullah Muhammad, kepada rmolaceh.id, Sabtu, 16 Oktober 2020.

Dulu, kata Syaifullah, nilam dikirim Belanda ke Malaya melalui Tapaktuan, yaitu Ibu Kota yang berada di Aceh Selatan. Lalu, nilam tersebut dibawa kembali ke Aceh oleh Belanda dari Filipina.

Setelah kemerdekaan, nilam di Aceh mulai disuling menggunakan penyulingan tradisional dengan memanfaatkan drum-drum. Walaupun masih diolah secara tradisional, kata Syaifullah, Aceh pada 90-an pernah menjadi produsen nilam terbesar dunia.

Syaifullah mengungkapkan bahwa 70 persen kebutuhan nilam dunia dipasok dari Aceh. Namun konflik merenggut banyak hal. Kala perang berkecamuk di Aceh, tata niaga nilam tidak terjaga dengan baik. Bahan baku dan harga tidak terprediksi. Produksi nilam Aceh pun menurun drastis.

“Dari pemasok kebutuhan 70 persen dunia, kini kita hanya sanggup memasuk 10-15 persen,” kata Syaifullah. Padahal, kata Syaifullah, nilam Aceh memiliki kandungan minyak paling tinggi dibandingkan dengan tiga spesies nilam lain di seluruh dunia. Syaifullah tak ragu menyebut nilai Aceh adalah nilam terbaik di dunia.

Nilam Aceh memiliki lima varitas, yakni varitas Lhoksemawe, Tapaktuan, Sidikalang, Pacolina 1 dan Pacolina 2. Lima tahun lalu, kata Syaifullah, ARC melakukan berbagai macam upaya untuk menyelamatkan komiditas rakyat Aceh tersebut lewat kerja sama dengan Pemerintah Aceh.

Puluhan tahun lalu, minyak nilam Aceh diekspor ke Singapura. Diolah, difraksinasi, dan impor lagi ke industri dalam negeri. Sehingga margin perdagangan Indonesia negatif karena lebih banyak yang impor dari pada ekspor.

Kini, kata Syaifullah, Aceh memiliki mesin produksi setara dengan dimiliki oleh Filipina dan Singapura. Dia berharap kondisi ini menjadi titik balik pengelolaan nilam di Aceh.

Di ARC, kata Syaifullah, nilam dikembangkan sebagai parfum, sabun, handsanizier, dan produk lain. Di sini, Syaifullah dan rekan-rekan melatih generasi muda Aceh terampil membuat produk-produk turunan Nilam.

Syaifullah berharap tercipta ekosistem nilam mulai hulu hingga hilir. Sehingga masyarakat tidak lagi menggantungkan harapan dengan menjual nilam ke daerah lain. Saat ini, kata dia, nilam dipasarkan dengan harga stabil. Harga minyak nilam mencapai Rp 750 ribu hingga Rp 800 ribu per kilogram. Harga ini relatif stabil sejak tiga tahun terakhir.

Berdasarkan informasi dari sejumlah kepala daerah di Aceh, saat ini muncul niat masyarakat untuk menanam nilam. Dengan begitu, kata Syaifullah, nantinya Aceh bisa memenuhi kebutuhan minyak nilam dunia. Dari total ekspor Indonesia, sekitar 1600 ton, Aceh hanya mampu berkontribusi di angka 150-200 ton.

“Kita harus memiliki kesamaan pandang terhadap nilam untuk menjadikan tanaman ini sebagai sebuah keunggulan daerah yang berpotensi menekan angka kemiskinan. Kita punya nilam terbaik. Aceh harusnya menjadi daerah terdepan yang menikmati keunggulan ini,” kata Syaifullah.