Pasang Surut Peradaban

Oleh Djaya Suprana*


AWAL September 2020 di masa planet bumi masih dirundung prihatin akibat prahara Corona, sahabat merangkap maha guru peradaban pedesaan saya, Tanto Mendut, berbaik hati berbagi berita. Bahwa Profesor Kobayashi Koichi sebagai maha guru ilmu politik internasional Universitas Nagoya menulis sebuah artikel yang menghebohkan dunia.

Di dalam naskah tersebut, Koichi meyakini bahwa Amerika Serikat akan mengalami keruntuhan seperti Uni Soviet akibat tiga alasan, yaitu politik nirkemanusiaan rasisme, kesenjangan sosial serta kontradiksi harapan dan kenyataan yang hadir pada apa yang disebut sebagai demokrasi.

Peradaban Koichi mengingatkan saya kepada maha guru sejarah peradaban Profesor Hans Joachim Vetter yang ketika saya menuntut ilmu di Jerman sempat memaksa saya untuk mempelajari pemikiran Oswald Spengler yang tergabung pada 2 jilid; “Die Untergang des Abendlandes” serta pemikiran Arnold Toynbee pada 12 jilid “A Study of History”.

Dari apa yang saya susah-payah baca dengan keterbatasan daya pikir dapat disimpulkan bahwa kedua maha tokoh sejarawan adalah manusia biasa yang mustahil sempurna maka kualitas pemikiran mereka meski luar biasa dahsyat namun tetap saja tidak sempurna. Maka tetap bisa diragukan bahkan disanggah kebenarannya.

Sama halnya dengan pemikiran para maha pemikir lain-lainnya seperti Machiavelli, Adam Smith, Sigmund Freud, Karl Marx et cetera. Penyempurnaan pemikiran terus berkelanjutan sebagai bagian hakiki peradaban manusia maka Newton disempurnakan Einstein disempurnakan Hawkings disempurnakan entah siapa lagi.

Terlepas dari virus skeptisisme yang diwabahkan oleh Anatoly Fomenko, saya tertarik pada analogi pemikiran Spengler dan Toynbee dalam hal apa yang mereka sebut sebagai bunuh diri sosial dengan melakukan kanibalisme sosio-politis yang berupaya menjelaskan bagaimana negara atau peradaban yang sempat sukses kemudian runtuh bahkan musnah seperti kekaisaran Romawi, Das Dritte Reich Jerman Hitler dan Uni Soviet.

Tampaknya Spengler dan Toynbee sama-sama terpengaruh pemikiran Edward Gibbon tentang runtuhnya perabadan Romawi di dalam mahakarya The History of the Decline and Fall of Roman Empire. Pendek kata, tiga serangkai Gibbon-Spengler-Toynbee sepakat bahwa arogansi kesuksesan merupakan biang keladi konsekuensi destruktrif yang sedemikian dahsyat sehingga mampu menghancurkan peradaban.

Pasangnya suatu peradaban lazimnya dimulai dengan proses penyuburan dari dalam. Sementara surutnya suatu peradaban diawali dengan proses pembusukan dari dalam seperti telah terbukti pada peradaban Yunani, Romawi, Mogul, Mongol, Manchu, Ottoman, Austria-Hungaria, Orde Lama, Orde Baru, Yugoslawia, Rumania, Uni Sowyet. Dan kini menurut Koichi, gejala proses pembusukan dari dalam sedang terjadi di Amerika Serikat. Saya bersyukur menjadi warga Indonesia. Beda dari Amerika Serikat, bangsa Indonesia senantiasa berikhtiar untuk berpegang teguh pada kerendahan hati yang tersirat di dalam falsafah Ojo Dumeh, Eling Lan Waspodo, Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono sambil gigih menunaikan Jihad Al Nafs sambil gigih Fastabiqul Khoirot bersaing berbuat baik.

Senantiasa taat pada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta Keadilan Sosial Untuk Seluruh Rakyat Indonesia sebagai pedoman akhlak peradaban dalam menempuh perjalanan panjang. Sarat kemelut, deru campur debu, berpercik keringat, air mata dan darah menuju masyarakat adil dan makmur di negeri gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja. Merdeka!

*) Penulis adalah pianist.

Tulisan ini dikutip dari rmol.id.