Flower Aceh: Edukasi Seks Penting bagi Anak

Riswati, Direktur Eksekutif Flower Aceh, mengatakan penting bagi orang tua untuk memberikan edukasi seks usia dini. Hal ini bukan menjadi tanggung jawab sekolah saja namun harus diawali dari dalam rumah tangga yaitu lingkungan keluarga dan rumah.


“Edukasi seks itu penting, terutama bagi anak-anak muda. Bahkan anak-anak usia dini harus dididik untuk mengenal fungsi organ reproduksi,” kata Riswati kepada rmolaceh.id, Senin, 12 Oktober 2020.

Anak-anak, kata Riswati, harus mulai dikenalkan dengan fungsi organ reproduksi. Dampak serta cara menjaga. Orang tua juga harus mengajarkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Dalam lingkungan keluarga, terutama ayah dan ibu, mereka dituntut mengedukasi anak tentang seks dengan bahasa yang dapat dipahami oleh anak. Jika mereka mengerti, kata Riswati, mereka akan mampu mengambil tindakan untuk dirinya sendiri.

Riswati mengatakan hingga pertengahan 2020, angka kekerasan seksual terhadap anak di Aceh, mengutip data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, mencapai 62 kasus.

Idealnya, kata Riswati, pendidikan seks ini sudah masuk ke dalam kurikulum pendidikan. Isu seks edukasi ini juga kerap dibahas untuk dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, namun di lapangan belum dimaksimalkan karena minim partisipasi keluarga.

Hal ini bisa dilihat dari sikap orang tua yang harus menuruti kemauan orang tuanya. Mulai dari pemilihan barang hingga hal lain. Kemudian dalam komunitas, anak-anak kerap diabaikan.

Mekanisme perlindungan dalam komunitas juga belum maksimal. Saat ini, kata Riswati, banyak kasus kekerasan seksual terhadap anak, namun di desa-desa, tidak ada struktur yang mengurusi hal ini, terutama mekanisme pengaduan terhadap kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak.

“Masyarakat Aceh, terutama orang tua, menganggap edukasi seks hal yang tabu. Ini bukan mengajarkan anak untuk melakukan hubungan seksual. Edukasi seks adalah pembelajaran mengenai gender. Sayang elemen yang kurang mendukung edukasi ini,” kata Riswati.

Riswati juga mengecam tindakan menikahkan korban pemerkosaan dengan pelaku. Korban yang mengalami kekerasan seksual dan trauma akibat pemerkosaan seharusnya dilindungi.

Riswati tak yakin jika korban kekerasan seksual dapat hidup tenang dengan pemerkosanya. “Itu tindakan melanggar hukum,” kata Riswati.