Pandemi Terra Incognita: Asia sebagai Episentrum Baru Dunia? (I)

Oleh Ahmad Humam Hamid*


TIDAK dapat dibantah, pada putaran pertama perang melawan Covid-19, sejumlah negara Asia, terutama yang disebut sebagai kawasan Asia Pasifik telah menang selangkah dibandingkan dengan AS, dan negara-negara Eropa, kecuali Jerman.

Walaupun Indonesia dan India dinilai kurang berhasil, namun bukti-bukti awal semakin menunjukkan bahwa Jepang. Korea Selatan,Taiwan, Cina, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Thailand telah berhasil mengendalikan perkembangan keganasan pandemi Covid-19.

Banyak pengamat memberikan penilaian bahwa realitas kemajuan ekonomi negara-negara Asia sebelum pandemi yang diperkirakan akan semakin mengungguli berbagai negara lain, kini menjadi semakin memperlihatkan kekuatan dimensi nonekonominya. Potensi Asia ternyata tidak hanya bertumpu semata pada kehebatan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga telah jauh melangkah kepada kapasitas negara, kecanggihan sistem pemerintahan dan ketangguhan sistem kesehatan publik.

Semua capaian ekonomi pra pandemi dan kemampuan sejumlah negara Asia mengendalikan Covid-19, semakin meyakinkan banyak pengamat, bahwa abad ke 21 sebagai abad Asia sebagai sesuatu yang tidak akan terhindarkan.

Kecuali Jerman, kegagalan hampir semua negara Eropa dan AS, telah membuat ideologi kapitalis dan demokrasi dipertanyakan. Apakah benar ideologi itu telah tak mampu lagi menghadapi sebuah realitas dunia baru yang lebih kompleks. Padahal arsitek dan pendorong lahirnya dunia baru itu adalah AS dan Eropa?

Asia memberikan jawaban bahwa pengendalian pandemi tidak ada urusan dengan ideologi. Asia menunjukkan bukti bahwa perbedaan diametral ideologi- komunis otoriter vs kapitalis demokrasi bukan menjadi halangan dalam menangani Covid-19. Kehebatan pengendalian pandemi oleh Cina dan Vietnam yang mewakili ideologi komunis otoriter ditandingi secara berimbang oleh sejumlah negara yang berideologi demokrasi kapitalis di Asia, yang diwakili oleh Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang.

Itu semua menunjukkan ada sesuatu yang lain, yang tidak berurusan dengan ideologi yang membuat Asia menjadi unik. Itulah sebabnya Kishore Mahbubani, mantan diplomat kawakan Singapore dan mantan dekan sekolah Pasca Sarjana Kebijakan Publik Lee Kuan Yew, di Universitas National Singapore semakin yakin bahwa kebangkitan Asia menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.

Pernyataan Kishore sesungguhnya mempunyai basis sejarah yang sangat kuat. Ia bahkan mengatakan dominasi barat dalam panggung global segera dan bahkan telah mulai berakhir. Bagi Kishore semenjak tahun nol, kelahiran nabi Isa AS sampai dengan tahun 1820, dua kekuatan ekonomi terbesar global adalah Cina dan India dengan komposisi GDP global sebesar 60 persen.

Angka 60 persen yang terjadi 300 tahun yang lalu menurut kajian Bank Pembangunan Asia pada tahun 2011 akan kembali pada pada tahun 2050, ketika negara-negara Asia secara bersama mempunyai pertumbuan ekonomi yang tinggi.

Prediksi dan kenyataan pertumbuman ekonomi sebelum Covid-19 membuat seorang pengamat Asia terkemuka Paragh Khanna tentang kebesaran Asia dalam tahun-tahun mendatang. Dalam bukunya The Future is Asian (2019) Khanna mengatakan abad ke 19 adalah abad Inggris, abad ke 20 adalah abad Amerika serikat, dan abad ke 21 adalah abad Asia.

Kehebatan barat yang dipelopori oleh Eropah yang berlanjut selama 200 dengan kehadiran AS adalah sebuah pengecualian. Kishore Mahbubani (2019) menyebutnya kejayaan barat selama 2 abad itu dengan istilah “penyimpangan” ataupun “kelainan”. Setiap kelainan dalam perjalananya akan berakhir secara alami, dan dunia sekarang menyaksikan kebangkitan kembali Asia, dimulai dari Asia Timur, yakni Jepang, Cina,Taiwan, dan Korea Selatan, menyebar ke Asia Tenggara dengan negara-negara ASEAN, dan berlanjut Asia Selatan, yakni India.

Realitas yang terjadi dalam 20 tahun terakhir menunjukkan kemajuan negera-negara di benua Asia dan jauh sebelum Cina menjadi nomor dua ekonomi dunia setelah AS, diduga akan terjadi. Tidak hanya Cina, bagi Kishore (2019) dan Khanna (2018) hampir seluruh negara di Asia dalam pengamatan mereka sedang menuju ufuk baru peradaban, kemajuan, pertumbuhan ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan, dan modernitas.

Titik awal kemajuan Asia setelah Perang Dunia II, dimulai ketika Jepang mengkonversi kekalahannya untuk sepenuhnya fokus menjadikan dirinya sebagai negara industri. Pengalaman restorasi Meiji yang pernah membuat Jepang maju kemudian sombong dan ingin jadi penguasa dunia, digunakan kembali, tetapi dengan mengubur keinginan untuk menjadi adi daya.

Jepang dengan berani sekali mengadopsi sejumlah praktik dan nilai-nilai barat yang kemudian di Jepangkan, sehingga yang tampil adalah Jepang modern dengan keutuhan tradisi yang tidak kalah dengan Barat. Modernitas, seperti yang diagungkan di Eropa dan di AS, dan pernah dianggap sebagai sebagai sebuah keniscayaan universal dijinakkan oleh Jepang. Negeri itu berhasil membuat spesies baru modernitas yang tidak mesti sama dan serupa dengan Barat.

Keberhasilan Jepang, kemudian dilirik oleh beberapa negara Asia lain yang terdekat, semisal Taiwan, Korea Selatan, Singapore, dan Hongkong. Kawanan empat yang terkenal dengan the Four Asian Tiger-empat macan Asia kemudian mengikuti jejak Jepang, dan mereka berhasil tidak hanya baik, tetapi menjadi contoh bagi dunia.

Keberhasilan empat macan Asia membuat sejumlah negara Asia lain tertarik dan ikut bergabung dengan mencontoh keberhasilan macan Asia dan Jepang. Dan kali ini yang tertarik tidak satu, cukup banyak, terutama sekali negara Asia yang berada dalam kolam Indo Pasifik.

DNA kebencian kepada “Barat” sebagai penjajah, kapitalis, dan imperialis, semenjak kemerdekaan pasca Perang Dunia ke II sejak saat itu tak lagi sering menjadi cercaan dalam narasi pembangunan. Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina mulai bergabung dengan klub macan Asia.

Tidak hanya sejumlah negara ASEAN, Cina dan India yang mempunyai ideologi anti sistem kapitalis diam-diam mulai berimprovisasi dengan apa yang terjadi di barat, namun menggunakan saringan Jepang dan empat macan Asia lainnya. Sekalipun Singapore negara pulau yang kecil, Deng Xio Ping punya pertanyaan khusus, tentang negara itu.

Kenapa dua Cina yang sama, bahkan mungkin 4 Cina yang sama, Singapore, Taiwan, Hongkong dan RRC, mempunyai tingkat kemajuan yang berbeda? Padahal ke tiga Cina selain RRC berasal dari Cina daratan yang peradabannya sudah ada semenjak 5000 tahun yang lalu.

Akhirnya Deng Xio Ping tahu, kuncinya banyak dan yang paling penting adalah investasi modal asing, industrialisasi, dan perdagangan internasional. Seperti negara Asia yang maju terdahulu, Deng juga sangat tertarik dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Akibatnya ia mengirim ribuan mahasiswa Cina ke luar negeri, terutama ke AS untuk belajar. Deng resmi mengadopsi sistem kapitalisme dengan motto “tak penting kucing putih atau kucing hitam, selama mampu menangkap tikus, itu tetap kucing baik”.

Sama dengan Cina, India juga mulai meninggalkan ekonomi sosialis yang ditinggalkan Nehru untuk kemudian bergabung dengan klub negara Asia lainnya dengan menjadi bagian penting dari globalisasi ekononomi dunia. Penanaman modal asing, industrialisasi, dan perdagangan bebas juga menjadi senjata utama India untuk mengejar ketertinggalan.

Ratusan juta pekerja Cina, India, dan negara-negara ASEAN kemudian menjadi bagian penting dari sistem ekonomi global, yang tergabung dalam WTO. Industrialisasi yang dimotori oleh penanaman modal asing yang kemudian diwadahi dengan perdagangan internasional menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran.

Cina sendiri tampil dengan pertumbuhan ekonomi 2 digit selama lebih 30 tahun, sementara negara-negara Asia lain umumnya tumbuh diatas 7 persen. Ini adalah salah satu fase pertumbuhan ekonomi kolektif terhebat dalam sejarah ekonomi dunia. Tidak hanya India dan Indonesia kemudian bergabung dalam klub negara pendatang baru pasar internasional, bersama dengan Brazil, Rusia, dan Afrika Selatan. Indonesia kemudian masuk kedalam klub 20 ekonomi global terbesar, G20.

*) Penulis adalah sosiolog dan guru besar fakultas pertanian Universitas Syiah Kuala.