Orang Minang Usulkan Nama Sumatera Barat Diganti Minangkabau

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anwar Abbas, mengaku setuju dengan usulan perubahan nama Provinsi Sumatera Barat menjadi Provinsi Minangkabau. Anwar mengatakan dekat dengan budaya masyarakat Sumbar.


"Saya sangat setuju sekali dengan gagasan untuk mengganti nama Provinsi Sumatera Barat dengan nama Provinsi Minangkabau," kata Anwar, seperti dikutip dari rmol.id, Sabtu, 26 September 2020.

Menurut Anwar, nama Minangkabau, selain mencerminkan salah satu suku yang ada di negeri, juga sangat sarat dengan nilai-nilai sejarah dan nilai-nilai luhur. Nilai-nilai itu perlu digali dan diwariskan kepada anak cucu dan generasi berikutnya.

Usulan pergantian nama Provinsi Sumatera Barat menjadi Provinsi Minangkabau menuai reaksi beragam di kalangan masyarakat, terutama masyarakat Sumbar. Orang Minang, sebutan masyarakat Minangkabau, kata Anwar, juga turut andil dalam upaya kemerdekaan dan tampil menjadi putra putri terbaik bangsa. Hal itu antara lain tidak terlepas dari unsur budayanya yang melekat.

"Orang Minang seperti kita ketahui telah banyak berkontribusi terhadap kemerdekaan negeri ini dan juga di dalam mengisi dan memajukan negeri ini," kata Anwar.

Sejumlah sosok asal Minangkabau saat ini juga tidak bisa dilepaskan dengan budaya daerah itu yang dikenal progresif dan terbuka. Peran orang Minang di negeri ini di berbagai bidang, kata Anwar, tidak bisa diremehkan.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon sebelumnya mengemukakan wacana perubahan nama Provinsi Sumatera Barat menjadi Provinsi Minangkabau. Dia menilai nama Minangkabau lebih sesuai dengan sejarah dan ciri khas budayanya.

Fadli mencontohkan Aceh, Bali, dan Papua sebagai nama provinsi berkaitan berkaitan dengan keistimewaan sejarah, budaya, dan identitas etnis masyarakatnya. Bahkan menurutnya, wacana perubahan nama Provinsi Sumatera Barat menjadi Provinsi Minangkabau muncul sejak 1970-an.

Fadli juga mengatakan bahwa wacana penggunaan nama Daerah Istimewa Minangkabau (DIM) juga pernah menjadi polemik di Ranah Minang.