Lewat Internet, Predator Seks Incar Anak Laki-Laki

Komisioner Bidang Pornografi dan Cybercrime Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPA),Margaret Aliyatul Maimunah, mengatakan predator seksual tidak hanya mengincar anak perempuan. Memanfaatkan jaringan internet, para predator seks juga mengincar anak laki-laki.


Dengan kondisi penggunaan internet yang semakin masif, para predator seks memanfaatkan teknologi itu untuk menjerat korban. Anak itu hampir seluruh lingkungan anak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, termasuk era global saat ini, anak rentan menjadi korban dari kejahatan seksual.

“Untuk menyalurkan hasratnya, pelaku tidak harus bertemu dengan korban,” kata Margaret Aliyatul, dalam acara Penanganan Hukum Anak Korban Kejahatan Seksual di Aceh, Rabu, 23 September 2020.

Sejak 31 Agustus 2020, kata Margaret, anak yang berhadapan dengan hukum sebagai pelaku kejahatan seksual mencapai 28 orang. Sedangkan anak yang menjadi korban kekerasan seksual 236 orang. Secara online, kata Margaret, korban sebanyak 89 orang. Pelakunya hanya empat orang. Karena itu, kata Margaret, negara perlu sistem perlindungan anak, termasuk pengawasannya.

Sepertinya proses ini masih terlalu jauh untuk diwujudkan. Jangankan untuk pengawasan, dana untuk operasional Mahkamah Syariah saja tidak memadai. Ketua Mahkamah Syar’iah Aceh, Rosmawardani, mengatakan penganggaran dana untuk Mahkamah Syari’ah dalam bentuk sarana prasarana dan operasional tidak ada.

“Namun dana yang diperoleh hanya cukup membiayai sertifikasi 25 orang hakim saja,” kata Rosmawardani.

Sertifikat tersebut hanya bisa dibuat oleh BPSDM kerja sama dengan diklat Mahkamah Agung. Padahal hakim lain juga memerlukan sertifikasi yang sama. Bahkan sampai saat ini, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak tidak memiliki kesepakatan apapun dengan Mahkamah Syar’iah terkait hal ini.

“Padahal kami butuh dana yang besar. Termasuk untuk mempersiapkan penjara bagi pelanggar hukum jinayat. Mereka seharusnya ditempatkan di penjara khusus,” kata Rosmawardani.