Spot Farming Alternatif Meningkatkan Produksi Pertanian

Head of Institute for Application Techniques in Plant Protection, Julius Kühn Institute, Braunschweig, Germany, Profesor Jens K. Wegener, mengatakan “spot farming” merupakan alternatif untuk meningkatkan produksi pertanian masa depan. Konsep tersebut salah satu cara bercocok tanam, sosial dan ekologi, dengan mengklasifikasikan lahan pertanian menjadi beberapa spot sesuai karakteristiknya.


“Proses tersebut secara keseluruhan dikerjakan dengan otomasi robotika, dan hasilnya dapat meningkatkan input agronomis serta meningkatkan produksi, seperti pembibitan, pemupukan, penggunaan pestisida dengan menerapkan pertanian presisi,” kata Jens dalam acara International Conference on Agricultural Technology, Engineering, and Environmental Sciences, yang diselenggarakan Universitas Syiah Kuala, kemarin.

Spot farming, kata Jens, juga memperhatikan lanskap yang mempunyai potensi biodiversitas yang tinggi dan elemen struktural lainnya serta tingkat penerimaan masyarakat untuk mencapai intensifikasi pertanian yang berkelanjutan.

Rektor Unsyiah Profesor Samsul Rizal mengatakan di era revolusi industry 4.0, harus membuat percepatan untuk membangun pertanian berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan penerapan berbagai aplikasi teknologi, sehingga produktivitas dan kualitas hasil pertanian dapat meningkat.

Samsul Rizal mengatakan perlu adanya motivasi bagi generasi muda untuk terjun di sektor pertanian dan merubah paradigma petani tradisional menjadi petani modern, dan kolaborasi keilmuan dalam ICATES ini menjadi kunci untuk mencapai hal tersebut.