Mengurai Sampah sedari Rumah

Sejumlah ibu rumah tangga di Gampong Alue Deah Teungoh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh terlihat mengangkat sampah dari tumpukan di sekitar rumah mereka. Sementara sebagian lainnya memperhatikan proses menimbang sampah plastik yang dikumpulkan dari rumah dan areal kampung itu.


Ini adalah bagian dari kampanye World Cleanup Day yang digelar Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota Banda Aceh. Dalam kegiatan ini, ibu-ibu yang selama ini ikut menjalankan program pemilahan sampah juga diwawancarai langsung terkait teknis pemilahan sampah dari rumah hingga ke depo WCP.

“Gerakan pemilahan sampah ini diharapkan mendorong partisipasi masyarakat untuk memilah sampah jadi lebih meningkat,” kata Kepala DLHK3 Banda Aceh Hamdani.

Hamdani mengatakan hal ini adalah bagian dari upaya pemerintah kota mengurangi volume sampah, terutama sampah rumah tangga dan sejenisnya. Pemerintah menargetkan penurunan sampah jenis ini hingga 22 persen pada akhir tahun ini. Untuk melaksanakan hal ini, pemerintah kota menggandeng Komunitas Peduli Lingkungan dan masyarakat.

Shinta, dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, mengatakan gerakan ini adalah modal terbesar dalam mewujudkan Banda Aceh sebagai daerah Bebas Sampah 2025. “Bebas sampah yang dimaksud di sini adalah semua sampah terkelola dengan baik oleh warganya, baik aktivitas pengurangan maupun penanganan sampah sesuai amanat Perpres Nomor 97 Tahun 2018,” kata Shinta.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK3, Hendra Gunawan, mengatakan dalam aksi kali ini pihaknya langsung ke lapangan untuk mengutip sampah-sampah yang ada di Gampong Alue Deah Teungoh bersama masyarakat dan Komunitas Peduli Lingkungan. Mereka juga membersihkan selokan di sepanjang permukiman warga.

Selain itu, kata Gunawan, pihaknya juga mendatangi rumah-rumah warga yang masih melakukan pembakaran sampah untuk mensosialisasikan proses memilah sampah sistem Waste Collecting Point (WCP) sebagai implementasi program nasional, yaitu Gerakan Pilah Sampah dari Rumah.

Pembinaan ini dilakukan DLHK3 Banda Aceh sejak 2015. Di Alue Deah Teungoh saat ini terdapat 10 depo WCP. Masing-masing depo terdiri dari 20-30 rumah. Dari rumah, sampah yang terpilah dihargai sesuai dengan harga pasar.

“Selain menjaga lingkungan tetap bersih, program ini juga membuat sampah memiliki nilai ekonomi,” kata Gunawan.

Gunawan berharap sistem ini dapat mengurangi jumlah sampah yang bersumber dari pemukiman warga. Dengan demikian, beban tempat pembuangan akhir (TPA) Banda Aceh dapat berkurang. Sejak sistem WCP berjalan, pengelolaan sampah di Alue Deah Teungoh menjadi lebih tertata. Di setiap depo WCP, DLHK3 juga menyediakan wadah sampah komunal.

Dalam kesempatan yang sama, Keuchik Alue Deah Teungoh, Azri Munaldi, berterimakasih kepada DLHK3 Banda Aceh yang menyelenggarakan kegiatan ini di gampongnya. Program ini, kata Azri, sangat positif dalam rangka menjaga lingkungan tetap bersih.

“Jadi kebersihan itu kita awali dari lingkungan kita masing-masing karena dengan kita menjaga kebersihan insya allah kita bisa terhindar dari segala penyakit apalagi selama ini kita juga sedang dilanda pandemi Covid-19,” kata Azri.