Ombudsman Aceh Berharap Akhir Tahun Ini Tak Ada Lagi Kelangkaan Pupuk

Kepala Ombudsman Aceh, Taqwaddin, berharap persoalan kelangkaan pupuk di Aceh tak lagi terjadi di tahun-tahun yang akan datang. Karena itu, dia berharap agar pemerintah segera menambah kuota pupuk untuk dialokasikan kepada seluruh petani di Aceh.


“Kami berharap agar tidak terjadi kelangkaan pada musim tanam akhir tahun. Kemudian menggunakan dana otsus untuk membeli pupuk yang nantinya akan disubsidi kepada petani,” kata Taqwaddin dalam keterangan tertulis, Kamis, 17 September 2020.

Selain mengecek langsung kondisi di lapangan, Ombudsman juga menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan pupuk. Rapat koordinasi ini dihadiri oleh perwakilan PT Pupuk Iskandar Muda, Disperindagkop Aceh, Distanbun Aceh, Biro Ekonomi Setda Aceh, dan perwakilan PT Petro Kimia Gresik.

Taqwaddin mengatakan rapat tersebut melahirkan sejumlah kebijakan. Langkah pertama, kata dia, adalah membangun kerja sama untuk melobi Pemerintah Pusat guna menambah kuota pupuk Aceh. Dalam jangka panjang, para pihak mendorong agar Pemerintah Aceh membeli pupuk dengan menggunakan dana otsus yang kemudian disubsidi kepada petani.

Langkah ini, kata Taqwaddin, lebih bermanfaat ketimbang dana otsus dikembalikan karena tidak habis terpakai. Hal ini, kata dia, diperbolehkan dalam Pasal 183 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh.

Abdulllah, perwakilan dari Disperindagkop Aceh, mengatakan saat ini stok pupuk yang tersedia di pasaran hanya sekitar 38 persen dari total kebutuhan masyarakat. Kondisi inilah yang menyebabkan petani sering kali kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Sementara, Fakhrurrazi, Kabid Sarpras Distanbun Aceh, mengungkapkan pada akhir tahun ini bakal terjadi kelangkaan besar-besaran pupuk subsidi.

"Stock hanya tersisa sekitar 33 ribu ton untuk Aceh. Sedangkan banyak daerah yang memasuki musim tanam. Ini yang menjadi kekhawatiran akan kelangkaan pupuk nantinya," kata Fakhrurrazi. "Ada penambahan 1,2 juta ton pupuk subsidi untuk nasional, nanti akan di break down untuk pembagian. Kita berharap mendapat jatah yang memadai guna menghindari kelangkaan."

Direktur Keuangan dan Umum PT PIM, Roehan Syamsul, mengatakan bahwa PIM, selaku produsen pupuk yang berlokasi di Aceh, memiliki stock yang cukup untuk kebutuhan petani jika ada permintaan tambahan pupuk subsidi dari pemerintah. Dia menyayangkan pengurangan kuota pupuk untuk Aceh, dari 74 ribu ton menjadi 56 ribu ton. “Sehingga terjadi kekurangan quota untuk tahun 2020 ini," ucap Roehan.

Roehan juga menambahkan bahwa perlu adanya penambahan quota pupuk subsidi serta adanya kartu tani untuk salah satu solusinya. Hal senada juga diutarakan oleh perwakilan PT Petro Kimia Gresik, Hadrian. Perusahaan itu siap memasok pupuk subsudi untuk Aceh. Saat ini mereka memiliki 8 unit gudang untuk penyimpanan pupuk.

"Pihak kami siap untuk stock pupuk subsidi dan nonsubsidi, pupuk subsidi kami salurkan sesuai sesuai berdasarkan kuota yang ditetapkan," kata Hadrian.