Ketua IDI Aceh, Safrizal Rahman. Foto: Fakhrurrazi.

rmolaceh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh, Safrizal Rahman, menuntut Pemerintah Indonesia segera mencairkan insentif bagi tenaga medis. Insentif ini dijanjikan kepada para seluruh petugas kesehatan yang menangani covid-19.

“Insentif untuk dokter dan perawat yang menangani covid-19 belum dikeluarkan pusat, seperti yang mereka janjikan,” kata Safrizal, Rabu, 16 September 2020. Menurut Safrizal, tenaga medis yang telah menerima insentif dari pemerintah pusat hanya mahasiswa yang mengambil program pendidikan dokter spesialis (PPDS).

Pemerintah memberikan insentif dan santunan kematian bagi tenaga lewat keputusan Menteri Kesehatan dan diungkapkan langsung oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, April lalu. Fasilitas pelayanan kesehatan yang dimaksud meliputi rumah sakit yang khusus menangani C-19, rumah sakit milik pemerintah pusat termasuk rumah sakit milik TNI/POLRI atau pemerintah daerah, serta rumah sakit milik swasta yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah. Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) dan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKL-PP), Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, Puskesmas, dan Laboratorium yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

Mereka yang dijanjikan mendapat insentif adalah dokter spesialis, dokter, dokter gigi, bidan, perawat, dan tenaga medis lainnya yang bekerja di fasilitas kesehatan tersebut. Besaran insentif untuk tenaga kesehatan di rumah sakit mencapai Rp 5 juta hingga Rp 15 juta. Sementara insentif untuk tenaga kesehatan di KKP, BTKL-PP, dan BBTKL-PP, dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota, Puskesmas dan laboratorium yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan setinggi-setingginya sebesar Rp 5 juta.

Pemerintah juga menjanjikan santunan kematian sebesar Rp 300 juta kepada tenaga kesehatan yang meninggal dalam memberikan pelayanan kesehatan karena tertular C-19. Tenaga kesehatan tersebut merupakan tenaga kesehatan yang tertular karena menangani pasien C-19 di fasilitas pelayanan kesehatan atau institusi kesehatan yang memberikan pelayanan C-19.

Terkait tenaga medis yang meninggal dunia dalam penanganan virus corona, Safrizal mengatakan IDI Aceh tengah mengurus santunan yang akan diberikan kepada ahli waris almarhum. IDI, kata Safrizal, harus memastikan ahli waris yang bersangkutan.

Untuk mencairkan insentif tersebut, IDI Aceh meminta Pemerintah Aceh berkoordinasi dengan Pemerintah Indonesia tentang kejelasan insentif untuk tenaga medis. Safrizal mengingatkan bahwa para tenaga medis adalah garda terdepan dalam melawan C-19.

“Jangan biarkan tenaga medis terlalu lama menanti. Apalagi janji itu diucapkan sudah cukup lama,” kata Safrizal sambil berpesan agar Pemerintah Aceh mempersiapkan banyak alat pelindung diri untuk petugas kesehatan seiring dengan meningkatnya kasus C-19 dalam beberapa pekan terakhir.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here