Tangkapan layar upaya pembubuhan Syeikh Ali Jaber di Lampung. Foto: ist.

rmolaceh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme BNPT, Boy Rafli Amar, mengatakan aparat penegak hukum tidak memercayai begitu saja informasi tentang penyakit gangguan jiwa yang dialami penikam Syekh Ali Jaber. Namun pelaku, A Alfin Andrian, pernah diperiksa kejiwaannya di Rumah Sakit Kemiling, Kota Bandarlampung, pada 2016.

“Kami juga menerima informasi yang sama dari keluarga dan orang-orang sekitar lingkungan tempat tinggal bahwa tersangka sudah lima tahun terakhir kena gangguan jiwa,” kata Rafli di hadapan anggota Komisi III DPR RI, di Senayan, Jakarta, seperti dikutip dari rmollampung.id, Selasa, 15 September 2020.

Namun, Rafli Amar, mengatakan pihaknya bersama aparat penegak hukum tidak mau menelan bulat-bulan informasi tersebut. Bersama aparat penegak hukum, BNPT mendalami informasi tersebut. Termasuk dengan memeriksa kesehatan jiwa pelaku lebih dalam. BNPT, kata Rafli, juga menelusuri dugaan afiliasi Alfin dengan kelompok atau jaringan terorisme tertentu.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Hukum dan HAM, Mahfud MD, mengaku tak percaya bahwa pelaku penusukan Syekh Ali Jaber merupakan orang dengan gangguan jiwa. Mahfud enggan mempercayai informasi dari keluarga yang menyebut pelaku sakit jiwa.

“Spekulasi di masyarakat ada dugaan berdasarkan pengakuan keluarganya, si penusuk ini sakit jiwa, tapi kita belum percaya. Kita akan tahu dia sakit jiwa betul atau tidak setelah diselidiki,” kata Mahfud. Untuk menyimpulkan seseorang sebagai penderita gangguan jiwa, perlu pemeriksaan mendalam dan dibuktikan dengan mengambil keterangan dari teman, tetangga hingga memeriksa jejak digital pelaku.

Sementara Ali Jaber mengaku tidak percaya sosok penyerangnya memiliki gangguan jiwa. Menurutnya, dari cara menyerang, pelaku merupakan orang terlatih. “Saya tidak percaya kalau pelaku gila. Cara dia (pelaku) memburu targetnya yakni saya menuju ke bagian yang paling vital (leher). Menurut saya, pelaku ini bukan gangguan jiwa karena dia sangat berani dan terlatih saat menusuk saya,” kata Ali Jaber.

Upaya pembunuhan terhadap Ali Jaber terjadi saat dia berceramah di Masjid Falahuddin, di Bandarlampung, Ahad lalu. Akibatnya, bahu kanan pendakwah itu terluka akibat tusukan pisau Alfin.

Sementara Humas Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Daerah Provinsi Lampung, David, mengatakan tidak ada rekam medis Alfin di rumah sakit tersebut. “Jadi kita berharap keluarganya datang ke sini menjelaskan ke kita kapan dirawatnya. Punya kartu kuning apa tidak. Karena berdasarkan berita dia pernah di sini, tapi kita cari di daftar kita tidak ada.”

Menurutnya, tempat rehabilitasi gangguan jiwa tidak hanya di sini, di swasta juga ada. Di Bandarlampung terdapat dua rumah sakit jiwa yang dikelola pihak swasta. Berdasarkan keterangan orang tua pelaku, Alfin sudah empat tahun ini mengalami gangguan kejiwaan.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here