Saifullah Abdulgani, Jubir Satgas C-19 Aceh.

rmolaceh Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani alias SAG, mengungkapkan angka penularan covid-19 di Aceh mencapai 3.031 kasus. Jumlah warga Banda Aceh yang diketahui tertular mencapai 51 kasus.

“Hari ini terjadi penambahan 140 kasus baru,” kata SAG dalam keterangan tertulis, Selasa, 15 September 2020.

SAG juga mengatakan hari ini enam penderita C-19 meninggal dunia. Mereka adalah dua warga Banda Aceh, satu warga Aceh Besar, satu warga Pidie, satu warga Sabang dan satu warga Aceh Selatan. Total kematian akibat C-19 di Aceh mencapai 104 kasus.

Menurut SAG, berdasarkan sebaran wilayah, penambahan 140 kasus positif C-19 19 baru terbanyak berasal dari Banda Aceh dengan 51 kasus. Aceh Besar 36 kasus, dan Simeulue 28 kasus. Sabang empat kasus, Aceh Barat tiga kasus. Aceh Timur, Pidie, Pidie Jaya, dan Lhokseumawe, masing-masing dua kasus, serta Aceh Selatan, Aceh Singkil, Bireuen, dan Nagan Raya masing-masing satu kasus. Enam kasus lain menimpa warga luar Aceh.

Dari 3.031 kasus akumulatif C-19, sebanyak 2.227 orang dalam penanganan tim medis di rumah sakit rujukan atau menjalani isolasi mandiri, 700 orang dinyatakan sembuh, 104 orang meninggal dunia.

Menanggapi lonjakan kurva penularan, pemerhati kebijakan publik, Nasrul Zaman, mengatakan sepantasnya seluruh daerah di Aceh memiliki alat tes swab PCR. Hal ini diperlukan untuk menekan lonjakan kasus covid-19 dan mempercepat penanganan.

“Pemerintah Aceh harus melihat perkembangan dalam beberapa pekan terakhir sangat mengkhawatirkan. Saat ini jumlah penderita meningkat secara signifikan, dari hari ke hari. Sebelumnya maksimal hanya 100-an, kini, per hari, mencapai 150-an kasus,” kata Nasrul.

Nasrul berharap Pemerintah Aceh tidak lagi mencari-cari penyebab peningkatan kasus penularan ini. Yang harus dilakukan, kata dia, adalah berupaya agar angka penularan diturunkan. Yang paling mungkin dilakukan, kata Nasrul, adalah menyediakan laboratorium swab PCR di seluruh rumah sakit daerah.

Saat ini, dengan kemampuan keuangan Aceh, angka satu perangkat berkisar Rp 1,5 miliar-Rp 2 miliar per unit. Nasrul mengatakan, di tengah lonjakan kasus, kejadian seperti di Aceh Tenggara seharusnya bisa dihindari. Tes swab pada 31 Agustus 2020 baru didapat hasil 12 September 2020. “Saat itu ditemukan 18 warga ternyata positif covid-19.”

Keterlambatan itu membuat penyebaran covid-19 melalui transmisi lokal meningkat tajam. Bayangkan jika dalam satu hari satu orang warga dari 18 kasus itu berinteraksi dengan 20-50 warga lainnya dan itu berlangsung selama 18 hari sebelum diambil tindakan, terutama isolasi.

Pemerintah Aceh, kata Nasrul, seharusnya menggunakan anggaran kesehatan untuk menanggulangi dan mempercepat lokalisasi. Dengan demikian, mereka yang terpapar dapat segera diisolasi, termasuk klaster terpapar sehingga dapat menekan angka penyebaran di satu daerah.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here