Tangkapan layar upaya pembubuhan Syeikh Ali Jaber di Lampung. Foto: ist.

rmolaceh Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsuddin, meminta Presiden Joko Widodo dan Kepala Kepolisian Idham Azis memastikan percobaan pembunuhan terhadap Syekh Ali Jaber diusut tuntas. Kasus itu merupakan kejahatan multidimensi.

“Kasus penikaman Syekh Ali Jaber bisa berimplikasi serius jika hanya ditangani ala kadarnya. Kasus ini harus diusut secara berkeadilan agar tidak terulang kembali,” kata Din, seperti dikutip rmol.id, Selasa, 15 September 2020.

Din mengatakan bobot dari kasus ini berdimensi luas karena mengenai figur ulama atau tokoh Islam. Karena itu, kasus ini harus segera diusut tuntas hingga ke akar-akarnya serta membongkar motif penikaman tersebut.

Din juga mengatakan bahwa kekejaman itu merupakan bagian dari skenario teror terhadap ulama dan tokoh Islam dan merupakan ancaman bagi keberagaman yang menjadi ciri khas negara ini.

Kepala Kepolisian Resor Bandarlampung, Kombes Yan Budi Jaya mengatakan penyidik tidak begitu saja percaya dengan pengakuan bahwa pelaku mengalami gangguan kejiwaan. Untuk meyakinkan hal tersebut, pihak penyidik berkoordinasi dengan Bibdokespolda untuk memanggil psikiater dan dokter kejiwaan dari Jakarta. “Memang ada indikasi. Namun masih jauh jika dia mengalami gangguan kejiwaan,” kata Yan.

Kepolisian menjerat pelaku dengan pasal 351 ayat 2. Ancaman maksimal terhadap pelaku yang beraksi di halaman Masjid Falahudin, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandarlampung, Ahad lalu, hanya lima tahun penjara.

Ali Jaber sendiri mengataan penusuknya adalah seorang terlatih. Dia yakin ada motif tertentu yang menjadikannya target percobaan pembunuhan. Ali Jaber mengatakan, ketika mereka berhadap-hadapan, pelaku langsung menusuk Ali Jaber. Ali Jaber sempat memandang mata pelaku saat melawan. Dari situ Ali Jaber memastikan bahwa pelaku bukan orang dengan gangguan kejiwaan.

“Apalagi dengan tenaga dan kekuatan serta badan yang kurus kecil tapi dia bisa melakukan itu,” kata Ali Jaber. “Dia betul-betul orang terlatih.”

Pelaku, kata Ali Jaber, mengincar bagian leher. Namun pisau itu terhalang oleh bahu Ali Jaber dan menembus cukup dalam. Pelaku mencoba mencabut pisau itu untuk mengarahkan tusuk lagi. Tapi, kata Ali Jaber, Allah SWT menolong. Ali Jaber menggerakkan badan, bangkit dari tempat duduk dan mencoba melawan. Pisau itu akhirnya patah dan tertinggal di bahu setelah menusuk hingga sedalam 8 sentimeter.

“Ketika orang-orang amankan anak itu, saya pakai tangan saya sendiri, dengan mengucapkan bismillah, saya lepas pisau dan terus berdarah sampai tangan saya penuh darah. Alhamdulillah, sekarang sudah membaik. Bahkan saya turun untuk mengisi kajian kembali,” Ali Jaber.

Ali Jaber berharap kejadian ini menjadi momentum agar masyarakat dan aparat keamanan bersatu bersama ulama dan para dai, untuk saling membantu dan mengisi. Ali Jaber menegaskan, kekejaman yang dilakukan oleh pelaku itu tidak bisa dijadikan stereotip masyarakat Lampung.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here