Suryopratomo alias Tommy. Foto: gapuspindo

Oleh Ilham Bintang*

SENIN lalu Presiden Joko Widodo melantik 20 duta besar di Istana Negara. Satu di antaranya adalah Suryopratomo. Dia masuk dalam golongan kecil wartawan yang ditunjuk sebagai duta besar sepanjang sejarah Indonesia. Senin pagi itu, Jokowi menunjuk Tommy, nama alias Suryopratomo, menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura.

Tommy adalah bekas pemimpin redaksi harian Kompas. Dia tercatat sebagai wartawan Kompas pertama yang mendapat kepercayaan sebagai pemimpin redaksi di Kompas. Pada 2000, Tommy menggantikan Jakob Oetama, pendiri dan pemilik kerajaan Kompas Gramedia. Jabatan itu dipegang Jakob sejak media itu berdiri pada 1965.

Setelah menyelesaikan tugas di Kompas, Tommy pindah ke Metro TV, dan menjadi pemimpin redaksi di stasiun televisi milik Surya Paloh itu. Tommy menjadi Direktur Utama Metro TV hingga 2019. Pagi tadi, setelah mendapat kabar pelantikan itu, saya menelepon Tommy. Menyampaikan ucapan selamat secara langsung dan mendoakan semoga dia berhasil mengemban amanah sebagai duta besar.

Di dalam kepengurusan Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Tommy menjadi anggota Dewan Kehormatan yang saya pimpin selama tiga periode . Dengan pelantikannya sebagai duta besar, Tommy harus melepaskan kursinya di DK PWI. Dalam percakapan lewat telepon itu, kami membicarakan sejumlah nama yang cocok menggantikan Tommy dalam struktur dewan pengawas.

Ketika nama Tommy masih diusulkan sebagai duta besar, saya menggoda Tommy dengan mengatakan akan menyurati Presiden Jokowi dan meminta orang nomor satu di Indonesia itu tidak memilih Tommy sebagai duta besar. Alasannya, “DK PWI masih sangat membutuhkan pemikiran Tommy.” Tommy tergelak merespons candaan itu.

Namun saya percaya pada kemampuan Tommy. Memang tugas sebagai duta besar bukan pekerjaan mudah. Selain harus punya kemampuan diplomasi, berpengetahuan luas, sosok tersebut harus pula mendapat kepercayaan presiden. Seorang duta besar adalah wakil kepala negara di wilayah penugasannya. Tommy memiliki kelengkapan itu, atas bimbingan Allah, dia pasti mampu.

Sebagai wartawan saja, sebenarnya Tommy sudah menjalankan separuh peran sebagai diplomat. Pembawaannya tenang dan hangat. Dia sangat terbuka dan cepat memberikan solusi. Tommy senantiasa memilih cara lain ketimbang konfrontasi.

Tommy luwes. Dia mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Di luar jabatan formal, dia memiliki jabatan lain yang jumlahnya mungkin 8008 urusan. Saat pengusaha Bob Hasan meninggal dunia, Tommy mewakili keluarga melepas jenazah almarhum.

Di masa pagebluk corona, Tommy tercatat sebagai relawan Satgas Penanganan Covid-19. Kala banyak wartawan memilih kerja di rumah, Tommy setiap hari berkeliling di tempat-tempat rawan penularan Covid-19, layaknya reporter media.

Satu hal yang saya tahu tentang Tommy, dan menurut saya belum ada yang menandingi hal itu, adalah semangat Tommy bersilaturahim. Dia selalu menghadiri undangan. Dari undangan formal sampai undangan acara kekeluargaan.

Sejauh catatan saya, Tommy hampir tak pernah absen menghadiri undangan saya. Apakah itu acara ulang tahun saya, HUT media C&R, konser musik kantor, undangan perkawinan anak-anak saya. Bahkan dia ikut menjadi among tamu beberapa kali. Juga acara buka puasa di rumah, akikah cucu, sekalian ikut acara kajian agama. Luar biasa. Wajar Tuhan menyayangi dia sehingga selalu memberinya kedudukan tinggi di mana dia ditempatkan. Meminjam istilah Karni Ilyas, “wajar kalau dia menang banyak.”

Akhir September, Tommy bertolak ke posnya di Singapura. Karena bertugas di masa pandemi, dia pun harus mengikuti protokol kesehatan negara itu. Dua minggu harus isolasi mandiri.

“Siap-siap saja, Pak Said Didu akan datang ke tempat Anda di hari pertama tugas,” ujar saya kepada Tommy. “Said Didu tidak akan menemui Anda, dia hanya akan memasang poster kampanye Manchester City di pagar KBRI. Setelah kembali ke Tanah Air.” Mendengarkan itu, Tommy tergelak sambil berujar, “jangan kasih tahu Bang. Di Singapore tidak boleh demo. Biar dia ditangkap polisi di sana,” kata Tommy menimpali.

Said Didu adalah sahabat kami. Bekas Sekretaris BUMN itu adalah adik kelas Tommy di IPB. Setiap hari, bisa dibilang sepanjang hari, Tommy dan Said Didu bercanda seperti Tom dan Jerry di Group WA. Tommy dikenal juga sebagai kolumnis bola. Man City selalu menjadi bulan-bulanan jika ditulis Tommy.

Suryopratomo lahir di Bandung 12 Mei 1961. Setelah lulus SMA, Tommy diterima kuliah di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, lulus pada tahun 1983. Pada 1986, Tommy menyelesaikan studi pasca sarjana di perguruan tinggi yang sama. Saat itu, dia punya dua pilihan: menjadi dosen dan kelak melanjutkan studi atau bekerja.

Tommy memilih bekerja. Ini adalah keputusan yang ditentang Tjokroprawiro, sang ayah, yang menghendaki Tommy melanjutkan studinya hingga S-3. Tommy kemudian mengirimkan empat lamaran pekerjaan, dan hanya Kompas memanggilnya. Tak pernah disangka jika akhirnya Tommy menjadi pemimpin redaksi Kompas, salah satu harian terkemuka di Indonesia. Kala itu, usianya masih muda, baru 39 tahun.

Empat tahun bergabung dengan Kompas, dia menjabat sebagai wakil kepala desk olahraga. Setahun kemudian Tommy dipindahkan ke desk ekonomi. Setelah itu dipromosikan menjadi redaktur pelaksana, dan pada 1 Februari 2000 Tommy menerima tongkat estafet dari Jakob Oetama sebagai pemimpin redaksi.

Selamat bertugas Mas Tommy. Berkah Allah SWT senantiasa menyertaimu. Sukses.

*) Penulis adalah Ketua DK PWI Pusat.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here