Muhammad Najib. Foto: Elza Putri Lestari/rmolaceh.id

rmolaceh Pengamat Dunia Islam, Muhammad Najib, menilai negara-negara Arab berkeinginan membantu Palestina. Namun urusan politik lebih kental mempengaruhi keputusan-keputusan politik di Timur Tengah.

“Bahrain akan menandatangani perjanjian damai dengan Israel, besok. Negara-negara Arab sebenarnya ingin membantu Palestina, namun mereka lebih mendahulukan kepentingan nasional mereka,” kata Najib dalam diskusi World View yang dipandu oleh redaktur rmol.id, Reni Erina, Senin, 14 September 2020.

Akhirnya, kata Najib, perhatian terhadap Palestina tergerus oleh kepentingan politik negara-negara Arab yang berkepentingan terhadap Israel dan pendukung utamanya, Amerika Serikat. Lama-kelamaan, kata Najib, hampir semua negara-negara Arab berdamai dengan Israel.

Jika besok Bahrain berdamai dengan Israel, bukan tidak mungkin negara Arab lain, seperti Oman dan Saudi Arabia menyusul langkah Bahrain. Terlebih bagi Saudi Arabia, Bahrain seperti salah satu provinsi negara kaya minyak itu.

Najib juga mengatakan bahwa ucapan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memprediksi kondisi Arab di masa depan bukan ucapan seorang cenayang. Donald, kata Najib, melihat gambaran politik terstruktur.

Termasuk kampanye Trump pada pemilihan presiden AS yang merugikan Palestina. Kalaupun pada pemilu mendatang Trump mengalami kekalahan, kondisi Timur Tengah juga akan berubah. Karena selama ini, AS menyokong Israel dalam hal persenjataan.

Najib juga menyinggung peran AS untuk memasok senjata ke Arab. Menurut dia, negara Arab yang relatif mandiri dalam memproduksi senjata adalah Iran. Negara ini, kata dia, mampu memproduksi sendiri senjata mereka meski ditakut-takuti AS dengan sejumlah sanksi dan ancaman perang. Iran bisa kuat karena di belakang mereka berdiri Cina.

Di sisi lain, negara-negara Arab lainnya juga memerlukan AS. Hal inilah yang digunakan AS untuk menekan Arab mau berdamai dengan Israel. Hal ini mulai terlihat karena putra mahkota kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman alias MBS, condong ke Israel.

MBS, kata Najib, sangat antusias terhadap hubungan dagang dengan Israel dan ingin mengumumkan hal ini kepada publik. Namun Raja Salman masih melarang keinginan anaknya itu.

Sementara dari dalam negeri, Palestina masih terbelah antara Hamas dan Fatah. Najib mengatakan Palestina bisa menjadi kekuatan besar jika kedua faksi tersebut bersatu. “Jadi, ini soal politik. Bukan agama.”

Menurut Najib, hanya Indonesia yang konsistem membela Palestina. Sejak awal berdiri, di masa pemerintahan Presiden Soekarno, dukungan Indonesia kepada Palestina dinyatakan secara blak-blakan. Padahal, secara geografis, Indonesia sangat jauh dari Palestina.

“Jika dilihat, Indonesia itu tak mungkin memiliki ketertarikan secara politik kepada Palestina. Jadi, hanya Indonesia yang murni dan tulus mendukung Palestina,” kata Najib.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here