Ketua DPR Aceh, Dahlan Jamaluddin (tengah). Foto: Fakhrurrazi.

rmolaceh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh Dahlan Jamaluddin mendesak Pemerintah Aceh segera mengevaluasi penanganan covid-19. Dahlan mengatakan peningkatan jumlah warga yang tertular dan meninggal dunia harus jadi alarm.

“Hingga kemarin, sudah 2.739 orang positif covid-19 di Aceh. Kematian berjumlah 93 orang. Ini kondisi yang serius,” kata Dahlan dalam konferensi pers di Gedung Parlemen Aceh, Senin, 14 September 2020. “Kondisi kita tidak baik-baik saja.”

Apalagi, kata Dahlan, berdasarkan data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, dari angka positif tersebut, hampir 400 orang adalah tenaga kesehatan. Dahlan juga menilai pemerintah tidak memiliki sikap jelas saat menghadapi pandemi.

Dahlan mengatakan sampai saat ini DPR Aceh belum tahu berapa positivity rate di Aceh, baik dari Laboratorium Universitas Syiah Kuala, Laboratorium Balitbangkes, maupun dari sampel yang dibawa ke Jakarta.

Dahlan mengatakan saat ini kebijakan jam malam belum menjadi prioritas. Jam malam hanya salah satu alternatif dalam konteks membatasi ruang gerak karena protokol kesehatan mengharuskan hal itu selain mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak.

Oleh karena itu, kata Dahlan, Pemerintah Aceh harus merumuskan kebijakan penanganan virus corona ini secara terukur, sistematis, dan terpimpin. Dimulai dengan tes massal secara menyeluruh sehingga diperoleh data untuk mengambil alternatif kebijakan memutus mata rantai penyebaran C-19.

“Kebijakan itu dapat berupa pemberlakuan PSBB terbatas baik secara tutorial maupun PSBB secara menyeluruh,” kata Dahlan. “Tapi kita harus identifikasikan dulu.”

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here