Oleh Abdan Sakura*

SAAT tulisan ini rampung, lebih puluhan masyarakat di Dataran Tinggi Gayo positif tertular covid-19. Sebagian besar adalah tenaga medis.

Lantas semua pihak, dari berbagai latar belakang, berbondong-bondong ikut berbicara. Tak sedikit yang mendramatisir dengan membuat stigma kepanikan dan ketakutan, seolah-olah wabah corona adalah kiamat.

Tentu Covid-19 merupakan sebuah virus yang sangat berbahaya, tetapi mendramatisir dan melebih-lebihkan pemberitaan itu jauh lebih berbahaya. Seorang wanita paruh baya di Bener Meriah histeris ketakutan dan kepanikan lantaran tak terima dikatakan positif covid-19 padahal yang dinyatakan positif adalah suaminya.

Kecemasan semacam itu muncul dari konstruksi publik. Seolah ketika Anda terjangkit tidak ada lagi sisa kehidupan yang Anda miliki. Sejauh informasi yang kita tahu, bahwa MERS dan SARS adalah keluarga besar dari coronavirus, penyakit pernapasan ringan termasuk pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan demam. Virus ini dianggap berbahaya Karena penyebaranya begitu cepat.

Artinya, ketika Anda mengalami penyakit-penyakit tersebut, belum tentu Anda terpapar Covid-19, sebelum Anda melakukan rapid test dan pemeriksaan swab. Bahkan ketika Anda tidak mengalaminya.

Kalau pun Anda positif Covid-19, tak perlu histeris seolah-olah Anda mati besok. Data menunjukkan sekitar 80 persen penderita dapat pulih tanpa perlu perawatan khusus. Namun yang dianggap serius terjadi pada orang lanjut usia, ibu hamil dan bayi.

Tulisan Dokter IS RSUD Muyang Kute dengan judul ‘’ Melawan STIGMA,’’ yang tersebar di laman Facebook patut diajungi jempol. Beliau sebagai masyarakat Aceh Tengah yang memberikan gambaran bagaimanya menghadapi berita buruk ini, sekaligus sebagai orang yang dinyatakan positif Covid-19 mampu memberikan kesan JANGAN PANIK!

Meskipun tak banyak upaya yang diberikan selain tulisan yang menenangkan serta menjabik-cabik perasaan. Paling tidak, beliau tidak sedang histeris ketakutan dan kepanikan.

Di tengah masa-masa sulit menghadapai virus corona di Tanah Gayo, yang kita butuhkan saat ini adalah kerja sama kolektif. Segelintir masyarakat yang terpapar adalah fakta bahwa kita sedang tidak baik-baik saja.

Kita sedang sakit, dan kita perlu kesadaran bersama untuk memulihkannya kembali. Bukan malah semakin pragmatis, memperkecil pelayanan kesehatan berharap bisa menghentikan penyebaran. Kita mesti kesampingkan semua prasangka yang mengecam.

Kita harus bersama-sama berdiri tegak dan tampil digarda terdepan untuk melawan stigma ketakutan ini. Bukan justru menambah ketakutan dengan memberikan definisi dan argumentasi tentang Covid-19 yang tak memiliki dasar.

Pilihan kita harus benar-benar memperhitungkan konsekuensi jangka panjang. Ketidak mampuan menjawab tantangan hidup sering membuat kepanikan, rasa panik tidak mengajari kita banyak hal, malah sering membuat kita ceroboh, tidak peduli, dan bahkan bengis sehingga memperparah keadaan.

Oleh sebab itu kiranya sangat penting menyebarkan informasi valid dan kerjasama kolektif. Memberikan edukasi supaya tidak panik. Mengajari mereka (masyarakat) dengan protokol yang sudah ada.

Masa-masa sulit ini pasti berlalu, masyarakat Aceh Tengah akan selamat, sebagian besar dari kita masih tinggal di dataran dingin yang tak lagi ramah ini. saat ini harapan berarti peduli dan berdisiplin. Dengan harapan itulah kita dapat melalui masa-masa sulit yang penuh dengan berita kepanikan ini.

*) Penulis adalah Pembina Di Wirkungs Geschichte Comunity. Kabid Kaderisasi DPC GMNI Yogyakarta.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here