RSU Zainoel Abidin. Foto: halodoc

rmolaceh Direktur Rumah Sakit Zainoel Abidin Azharuddin mengatakan pihaknya terpaksa memindahkan pasien covid-19 ke Asrama Haji Banda Aceh. Kebijakan ini terpaksa diambil untuk sementara guna mengantisipasi lonjakan pasien corona di Aceh.

“Yang dirawat di Asrama Haji Banda Aceh hanya tenaga medis dan tenaga kesehatan lain. Karena memang sangat banyak dair mereka terkonfirmasi positif covid-19,” kata Azharuddin, Sabtu, 1 Agustus 2020.

Hingga saat ini, jumlah pasien corona yang tercatat di data unit kesehatan mencapai 415 orang. Dengan banyaknya warga Aceh terpapar, dan terbatasnya ruang perawatan yang tersedia, manajemen rumah sakit memutuskan untuk menggunakan kompleks asrama haji.

“Ada yang tidak bergejala atau gejala ringan. Jadi Asrama Haji sementara digunakan untuk itu. Sedangkan ruang RICU, Pinere fokus diutamakan untuk pasien rujukan,” kata Azharuddin. “Yang positif dan tidak bergejala tidak lagi dirujuk ke RSUDZA. Jadi RSUDZA lebih baik merawat yang bergejala dengan gradasi sedang dan berat saja.”

Azharuddin mengatakan rumah sakit tidak mungkin merawat pasien covid-19 dari unsur masyarakat. Terutama karena alat pendukung pelayanan medis, seperti perlengkapan medis serta logistik standar lainnya belum tersedia. Tenaga medis, kata Azharuddin, lebih paham dalam merawat diri mereka sendiri.

Jika jumlah ketersediaan ruangan tidak mampu lagi menampung pasien, alternatif yag diambil manajemen rumah sakit adalah melaksanakan surat edaran pelaksana tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Dalam surat itu, Nova meminta pemerintah daerah di seluruh Aceh untuk menambah jumlah tempat tidur pasien isolasi covid-19.

Saat ini, jumlah pasien covid-19 yang menjalani perawatan di RSUDZA mencapai 65 orang. Mereka terdiri dari 29 tenaga kesehatan dan 36 orang masyarakat umum. Azharuddin menuturkan, melihat perkembangan kasus dari waktu ke waktu, maka segala keputusan yang diambil juga akan sangat dinamis. Rumah sakit, kata Azharuddin, telah menyiapkan sejumlah skenario penanganan pandemi covid-19.

Sementara itu, juru bicara Tim Penanggulangan Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani alias SAG, meminta para bupati dan wali kota mempersiapkan rumah sakit di daerah masing-masing sebagai tempat perawatan dan isolasi orang tanpa gejala.

Saat ini, kata SAG, hanya sedikit daerah yang memiliki ruangan ini. Pemerintah Kabupaten Bireuen, kata dia, memiliki tempat isolasi khusus tersebut di Cot Batee Gelungku. Pemerintah Kabupaten Gayo Lues yang memanfaatkan Balai Latihan Kerja (BTK). “Apabila semua OTG covid-19 dirujuk untuk isolasi di Banda Aceh, tidak cukup tempat. Hal ini juga tidak efisien,” kata SAG.

SAG juga meminta masyarakat melakukan tindakan pencegahan. Langkah ini, kata dia, lebih murah dan mudah dilakukan. Yang dibutuhkan hanya komitmen menjalankan kebijakan dan disiplin protokol kesehatan. Dia juga meminta pemerintah daerah bekerja lebih serius untuk menangani hal ini bersama-sama.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here