Ilustrasi: bbc

rmolaceh Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa di Aceh sampai dengan 31 Juli 2020 terjadi penambahan jumlah kasus corona sebanyak 103 kasus. Dengan penambahan ini, total masyarakat Aceh yang tertular C-19 mencapai 415 orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 309 orang menjalani perawatan, pasien sembuh berjumlah 94 orang dan yang meninggal dunia 12 orang. Banda Aceh Dari 23 kabupaten/kota di Aceh, Banda Aceh tercatat sebagai daerah dengan kasus terbanyak, yakni 122 kasus, disusul Aceh Besar 80 kasus, Bener Meriah 34 kasus, Aceh Tamiang 33 kasus, Abdya 22 kasus, Bireuen 21 dan Lhokseumawe 20 Kasus.

Aceh Selatan berada di bawah Lhokseumawe dengan 18 kasus, luar daerah 13 kasus, Aceh Utara 11 kasus, Langsa 8 kasus, Aceh Tengah 8 kasus, Pidie 5 kasus, Aceh barat 4 kasus, Aceh Tenggara 3 kasus dan Aceh Timur 3 kasus.

Lalu Simeulue 3 Kasus, Gayo Lues 2 kasus, Sabang 2 kasus, Aceh Jaya 1 kasus, Subulussalam 1 kasus, luar negeri 1 satu kasus. Sedangkan Aceh Singkil, Nagan Raya dan Pidie Jaya nihil.

Data tersebut diperkirakan terus meningkat seiring dengan rilis hasil tes usap di Laboratorium Balitbangkes Aceh dan Laboratorium Penyakit Menular Universitas Syiah Kuala. “Usai Idul Adha, Aceh akan mengalami lonjakan kasus,” kata Nova Iriansyah, pelaksana tugas Gubernur Aceh, dalam keterangan tertulis yang diterima rmolaceh.id, Jumat, 31 Juli 2020.

Pemerhati kebijakan publik, Nasrul Zaman, menilai lonjakan kasus penyebaran corona ini terjadi karena beberapa hal. Satu di antaranya adalah ketidakjujuran pasien saat berobat di fasilitas kesehatan, baik milik pemerintah ataupun swasta.

Nasrul juga menilai kesadaran masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan selama wabah Covid-19 juga kurang. Masyarakat masih enggan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak saat berinteraksi sosial.

“Ada pasien yang menutupi riwayat perjalanan dari luar daerah serta menyembunyikan hasil pemeriksaan yang sebenarnya menunjukkan hasil reaktif covid-19,” kata Nasrul. “Kita juga merasa abai. Minimnya kasus covid-19 di Aceh membuat kita lalai. Dan kini kita sedang memanen buah kelalaian itu.”

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here