Hidayat Nur Wahid (HNW). Foto: rmol.id.

rmolaceh Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Hidayat Nur Wahid (HNW), meminta kepolisian mengusut tuntas kasus penusukan imam masjid di Pekanbaru, Riau. Kepolisian juga harus bekerja cepat, seperti saat menangani kasus pembakaran bendera PDIP, terhadap pembakaran baliho bergambar Habib Rizieq Shihab di depan kantor DPR RI.

Menurut HNW, kepolisian harus menegakkan prinsip Indonesia sebagai negara hukum yang adil dalam dua kasus ini. Kasus penusukan imam dan ujaran kebencian terhadap Rizieq oleh sejumlah oknum di depan kompleks parlemen Indonesia.

“Ada upaya untuk kembali menyebutkan bahwa pelaku penusukan mengalami gangguan jiwa,” kata HNW seperti dikutip dari rmol.id, Kamis, 30 Juli 2020.

Yazid Umar Nasution, nama imam masjid nahas itu, ditusuk usai salat Isya berjamaah di Masjid Al-Falah di Jl Sumatera, Pekanbaru Kota, pada Kamis pekan lalu. Pelaku datang ke masjid dan masuk lewat pintu khusus di bagian ruang imam, di bagian depan masjid.

HNW mengatakan penusukan imam masjid di Pekanbaru masuk dalam kategori penganiayaan yang terdapat dalam Pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Jika polisi mengalihkan hal ini menjadi serangan oleh orang dengan gangguan jiwa, maka, kata HNW, polisi mengulangi hal sama.

“Beberapa kali dalam penganiayaan terhadap ulama atau ustaz, pelakunya selalu disebut mengalami gangguan jiwa. Sehingga tidak dikenakan sanksi hukum yang menjerakan,” kata HNW.

Tanpa tindakan hukum yang memberikan efek jera, polisi sama saja dengan merusak kepercayaan umat dan masyarakat kepada kebenaran penegakan hukum di Indonesia. Yang lebih mengkhawatirkan, kata HNW, kasus ini akan terus berulang.

Sementara untuk kasus ujaran kebencian dan merusak baliho bergambar Habib Rizieq, pihak kepolisian juga seharusnya menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka bisa bertindak profesional dan berlaku adil. Mestinya, kata HNW, polisi menyampaikan ke publik bahwa tindakan kriminal seperti itu dipastikan akan diusut secara adil.

Apalagi, beberapa pihak juga melaporkan ke pihak kepolisian terkait tindakan yang menghina dan menyebarkan kebencian terhadap Habib Rizieq sebagai ulama yang dihormati dan memiliki pengikut yang sangat banyak.

“Sebagai bentuk nyata adanya penegakan hukum yang adil, dan untuk memberikan kepercayaan kepada umat atas tetap berlakunya penegakan hukum secara adil, yang dilakukan oleh polisi, maka polisi seharusnya bergerak secara cepat, profesional, dan adil,” kata HNW.

HNW berharap polisi bekerja sama cepatnya seperti saat menerima laporan pembakaran bendera PDIP beberapa waktu lalu, atau ketika mengusut pelemparan bom molotov ke kantor PDIP di Bogor. Kepolisian, kata HNW, tidak boleh tebang pilih dalam memproses suatu kasus.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here