Ilustrasi: the first.

Oleh Ambo Asse Ajis*

TENAGA ahli Pelestarian Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh, baru-baru ini, mengamati struktur batu bata yang diduga bagian dari reruntuhan bekas bangunan era Kerajaan Samudera Pasai (1267-1521 Masehi). Lokasi temuan berada di koordinat 5° 8’16.54″U 97°12’28.65″T. Dengan batas antara lain: sebelah utara berbatasan dengan tambak, sebelah selatan berbatasan dengan gundukan tanah lapang, sebelah barat berbatasan dengan tambak dan sebelah timur berbatasan dengan parit drainase.

Reruntuhan yang dimaksud berupa singkapan struktur batu bata yang terlihat jelas memiliki siku, berbentuk huruf “L”, dengan kondisi sangat tidak terawat. Dari hasil pengamatan, permukaan tanah diketahui, bagian struktur yang tersingkap, ada yang memiliki lapisan batu bata 8 buah dan ada 5 buah dengan ukuran ketebalan bata rata-rata 5 sentimeter.

Tinggi struktur tersebut ada yang 40 sentimeter dan 25 sentimeter dari permukaan tanah.
Selain temuan singkapan struktur batu bata, di lokasi tersebut juga didapatkan tinggalan gundukan tanah dan sebaran fragmen tembikar, stoneware dan keramik serta fragmen laterit.

Gundukan tanah merupakan tutupan massa tanah yang berada di atas struktur batu bata. Tutupan tanah terjadi akibat proses sedimentasi tanah secara alamiah, seperti akibat hujan, banjir sungai Krueng Pase, air pasang laut serta lumpur yang dibawa gelombang tsunami yang pernah terjadi 2004 lalu. Di atas tanah ini, tumbuh rumput dan semak belukar khas tanaman pesisir.

Sebaran fragmen keramik, stoneware dan tembikar cukup luas di lokasi ini, baim yang berada di permukaan tanah maupun di tanah pematang tambak yang tersingkap. Warna umum keramik yang terlihat seperti warna hijau celedon dan biru putih; fragmen stoneware ada yang berwarna coklat, krim hingga coklat kehitaman. Adapun potongan materilnya umumnya berwarna krem; untuk fragmen tembikar, umumnya berwarna merah cerah dengan ketebalan beragam serta teknik hiasnya yang bervariasi.

Di lokasi ini juga ditemukan juga gumpalan tanah liat yang mengeras membentuk massa padat yang mengandung material besi yang disebut laterit. Gumpalan tanah ini cukup banyak ditemukan dengan ukuran yang bervariasi.

Nilai sejarah
Kerajaan Samudera Pasai dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara sebagaimana bukti tertulis (epitaf) pada nisan Sultan pertamanya bernama Malik As-Shaleh yang wafat pada tahun 696 Hijriah atau 1267 Masehi.

Keberadaan Kerajaan Samudera Pasai juga dicatat sangat baik para pelancong yang pernah datang dan singgah, seperti Marcopolo (1292 M), Oderico da Pordeonone (antara 1286-1331 Masehi), Ibnu Batutah (antara 1304-1368 Masehi), Cheng Ho (antara 1371-1433 Masehi), Tome Pires (antara 1468-1540 Masehi).

Terkait dengan temuan permukaan berupa struktur batu bata yang ada di lingkungan bekas Kerajaan Samudera Pasai bersama dengan gundukan tanah serta sebaran fragmen keramik, stoneware (keramik batuan) dan tembikar (kereweng/tanah liat) merupakan bukti arkeologis yang sangat penting bagi pengungkapan historiografi Kerajaan Samudera Pasai sebelum penaklukan kolonial Portugis tahun 1513 Masehi.

Salah satu nilai penting kesejarahan yang bisa di peroleh dari temuan struktur batu bata ini adalah semakin kuatnya argumentasi bahwa Kerajaan Samudera Pasai juga memiliki bangunan batu bata. Fakta ini melengkapi temuan sebelumnya, berupa susunan binaan struktur batu bata di Situs Cot Sidi Abdullah, berjarak sekitar 282 meter ke arah timur laut. Selain itu, di situs ini juga terdapat makam Sidi Abdullah yang wafat pada tahun 1407 Masehi.

Temuan di atas semakin memberikan pemahaman bahwa pada masa Kerajaan Samudera Pasai, penggunaan batu bata sebagai bagian bahan bangunan telah diketahui dan diaplikasikan. Meskipun citra yang digambarkan belum begitu lengkap akibat masih terbatasnya bukti-bukti pendukung lainnya, namun jejak ini memberikan pemahaman luas bahwa Kerajaan Samudera Pasai mengenai teknologi bangunan yang barangkali diperolehnya dari hubungan perdagangan yang sangat ramai ketika itu.

Temuan struktur batu bata ini juga akan sangat penting bagi upaya merekonstruksi kehidupan masa lalu Kerajaan Samudera Pasai yang dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Sehingga demikian, kita bisa memahami bagaimana strategisnya kerajaan ini berhubungan dan terhubung dengan kekuatan ekonomi global antara abad ke-13-16 Masehi di dunia.

Terakhir, amatlah sangat penting melakukan upaya pelestarian temuan dalam rangka penyelamatan dan memperluas kajian arkeologi guna merekonstruksi dan menjelaskan lebih detail kehidupan jati diri bangsa Indonesia pada abad ke- 13 M hingga abad ke-15 Masehi.

Menyelamatkannya berarti memberikan peluang bagi kita melakukan banyak hal, terutama mempelajari geopolitik nusantara di abad ke 13 sampai ke 16 Masehi, memahami dinamika kekuatan asing yang hendak mendominasi perdagangan di Selat Malaka, menemukan jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang aktif dalam perdagangan global sejak abad ke-13 Masehi.

Yang tak kalah penting adalah memperkuat pemahaman bahwa kita memiliki produk unggulan yang dibutuhkan pedagang global ketika itu. Seperti rempah-rempah, emas, kapur barus dan sebagainya yang menjadi nilai tawar memperkuat kebangsaan dan kemandirian bangsa.

*) Penulis adalah dosen di Universitas Samudera Langsa. Email: ambo.unsam@gmail.com

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here