Banjir merendam kawasan permukiman di Aceh Jaya. Foto: ajnn.net.

rmolaceh Kepala Ombudsman Aceh, Taqwaddin, mengatakan serangkaian bencana banjir, dari darat dan laut, mengindikasikan kerusakan lingkungan di Aceh. Hal ini dipicu oleh kerusakan hutan yang parah.

“Kemampuan hutan untuk menampung air hujan semakin melemah. Inilah yg menjadi sebab utama banjir genangan dan banjir bandang,” kata Taqwaddin dalam keterangan tertulis yang diterima rmolaceh.id, Rabu, 29 Juli 2020.

Kerusakan hutan juga mengakibatkan daerah aliran sungai tidak berfungsi optimal. Tanah di hutan, yang seharusnya tertahan akar pepohonan, terkikis dan menyebabkan sedimentasi. Tanah itu mengendap di dasar sungai dan menyebabkan alur sungai dangkal, terutama di bagian hilir.

Pemerintah Aceh, kata Taqwaddin, perlu mengevaluasi seluruh kebijakan, terutama yang terkait langsung dengan hutan. Sikap, tindakan, dan perilaku masyarakat terkait dengan alam dan lingkungan juga harus diubah.

Semua faktor di atas berkontribusi sugnifikan yang mengakibatkan terjadinya banjir di kawasan permukiman. Bencana banjir ini dapat menimbulkan korban jiwa, ketidaknyamanan, dan kerugian harta benda. “Kita jangan salah mengurus lingkungan dan bersungguh-sungguh untuk mengubah cara pandang kita terhadap hutan. Karena kerusakan lingkungan merugikan kita semua,” kata Taqwaddin.

Terkait peristiwa banjir, Taqwaddin mengatakan perlu perlu upaya penanggulangan yang komprehensif. Mulai dari penanganan daerah hulu (hutan di dataran tinggi) hingga kondisi sungai dan riol-riol di hilir daerah pemukiman.

Ombudsman Aceh juga meminta agar pemerintah daerah agar tetap melakukan pelayanan publik yang bersifat dasar, meliputi pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan, pelayanan keamanan ketertiban, pelayanan infrastruktur, pelayanan sosial, dan pelayanan administrasi kependudukan.

Langkah taktis yang perlu segera dilakukan oleh pihak pemerintah adalah melakukan evakuasi para warga guna memastikan keselamatan mereka. Lalu, memenuhi kebutuhan dasar hayati penyintas bencana.

“Setelah kedua upaya ini selesai dilakukan, baru kemudian dilakukan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi terhadap infrastruktur yang mengalami kerusakan,” kata Taqwaddin.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here