Ilustrasi: amyhuntington

Oleh Azhar*

Hutan mangrove berperanan penting bagi ekonomi dan ekologi. Hutan ini memiliki produktivitas bahan organik yang tinggi. Ekosistem yang kaya bagi habitat, termasuk berbagai organisme laut yang bernilai ekonomi tinggi, seperti ikan dan udang.

Di luar itu, mangrove melindungi garis pantai dari erosi yang disebabkan oleh gelombang dan angin kencang. Salah satu yang merasakan manfaat besar dari keberadaan magrove, atau biasa kita kenal dengan sebutan bakau, adalah Langsa.

Magrove adalah ciri khas kota yang berada di pesisir timur Provinsi Aceh itu. Garis pantai Langsa ditutupi dengan hutan mangrove Kuala Langsa. Luasnya mencapai 6.000 hektare. Magrove menjadi pembatas hijau antara lautan dan daratan. Masyarakat sejak lama mengambil manfaat dari keberadaannya.

Seiring perjalanan waktu, hutan mangrove Kuala Langsa terus mendapat tekanan. Dampak dari kepentingan ekonomi ekonomi, kawasan pemukiman, tambak dan proyek pembangunan lainnya. Namun yang paling parah adalah perambahan liar. Hutan bakau Langsa, setiap hari, berhadapan dengan perambah yang mengambil batang mangrove sebagai bahan baku baku arang.

Namun hal itu harusnya dapat dipecahkan bersama oleh para pemangku kepentingan di Langsa. Salah satu pertimbangannya adalah karena hutan ini menjadi persinggahan burung yang bermigrasi.

Burung-burung yang berdekatan dengan kutub selatan dan kutub utara singgah di Kuala Langsa sekitarnya. Di Langsa, kawanan burung yang bermigrasi ini menetap berbulan-bulan. Terutama saat musim dingin di negara asalnya. Hal ini berlangsung setiap tahun.

Di hutan mangrove Kuala Langsa, terdapat berbagai habitat burung migrasi, yakni burung tepi pantai, laguna, delta sungai (meliputi sungai dan muara sungai), persawahan dan mangrove. Dan semua tipe ini ada di Kuala Langsa yang bertanah khas berlumpur.

Sepanjang tahun, kawasan ini menyediakan pakan alami berupa larva serangga, berudu, cacing, dan krustasea sebagai makanan burung. Dan yang terpenting, iklim hangat. Burung pantai dalam kehidupannya banyak tergantung kepada keberadaan pantai atau lahan basah.

Burung pantai merupakan jenis burung pemakan krustasea, serangga, dan invertebrata lain, yang memiliki habitat luas, biasanya terdapat di gosong lumpur, beting pasir, pantai, sungai, dan areal persawahan.

Di Kuala Langsa juga terdapat beberapa titik singgah burung migrasi. Yakni hutan mangrove alami, Pulau Telaga 7, Kuala Langsa dan Pertambakan di Sungai Lung (Agus Nurza, 2019). Jenis burung migrasi seperti gajahan besar benggala, kirik-kirik, ceret mongolia, gagang bayam timur, kedidi paruh sendok.

Terdapat 34 jenis burung yang berasal dari Asia, Eropa dan Australia. Secara umum terdapat 56 jenis burung dari 33 famili terdiri dari kelompok burung air, burung pantai, passerin, pemangsa dan lainnya, terdapat 56 spesies burung dari 33 famili yang berada di kawasan Langsa.

Burung-burung tersebut diketahui beberapa di antaranya tergolong dalam kelompok burung air, burung pantai, passerine, pemangsa dan lainnya. Persinggahan burung migrasi di pesisir timur pantai Aceh membentang sepanjang 25 kilometer dari Aceh Timur, Langsa sampai Aceh Tamiang. Dari keseluruhan jenis yang dijumpai, sebanyak 19 jenis diantaranya merupakan jenis-jenis burung migran dan 13 jenis merupakan burung-burung yang terancam secara global dan dilindungi (Bale Juroeng 2019).

Mengubah Cara Pandang
Sudah saatnya warga dan Pemerintah Kota Langsa mengubah cara pandang terhadap mangrove dengan menjadikan mangrove Kuala Langsa sebagai aset wisata burung migrasi internasional.

Penyediaan sarana dan prasarana wisata bagi pemantauan burung migrasi berupa pembangunan jalan masuk ke lokasi ke tempat pemantauan burung, penyediaan menara pemantauan burung migrasi dan sarana pelabuhan sandar bagi boat hingga penyediaan boat-boat untuk melihat dari dekat lokasi burung migrasi. Ini tentu sangat menarik bagi wisatawan baik lokal, nasional dan mancanegara.

Sebagai contoh adalah Pemerintah Kota Sabang menginternasionalkan Sabang dengan Sabang Sail berskala international. Pemko Sabang dan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang, secara rutin, mengundang pelayar-pelayar internasional untuk hadir di Sabang. Langkah ini, perlahan-lahan, mengenalkan Sabang secara luas ke dunia internasional.

Pemko Langsa dapat mengambil inisiatif serupa. Mungkin dengan menggelar Langsa International Migration Bird (Pemantauan Burung Internasional Kota Langsa). Tentu saja hal ini dilakukan dengan mengundang para pemantau burung dari seluruh belahan dunia.

Jika Langsa dapat mengundang pemantau burung dari Amerika Serikat, Inggris hingga Jepang, untuk hadir di kota ini saat musim burung bermigrasi di Kuala Langsa, hal ini akan sangat berdampak pada peningkatan pendapatan dari sektor ekonomi, baik untuk pemerintah terutama untuk masyarakat secara umum.

Karena itu, perlu dikembangkan pemahaman tentang pentingnya keberadaan mangrove di Kuala Langsa. Jika selama ini bakau ditebang hanya untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, mungkin wisata pemantauan burung ini dapat menjadi pengganti yang sepadan saat masyarakat menjaga ekosistem dan tutupan hutan mangrove.

Tentu saja saat pengalihan, dari membabat mangrove menjadi memelihara, pemerintah harus memberikan akses kepada para pengusaha dapur arang dan petambak berperan dalam pengelolaan wisata “mengintip burung”. Pemerintah kota harus memastikan bahwa para pemilik dapur arang dan petambak tidak jadi penonton saat terjadi peralihan ini.

Jika hal ini terjadi, maka Langsa adalah daerah pertama di Sumatera yang memadukan pengembangan hutan wisata menjadi kegiatan ekonomi kreatif, pusat pendidikan, laboratorium alam dan laboratorium sosial, dan pengembangan industri rumah tangga berbasis nilai tambah. Dan saat itu pula kita semakin menyadari Allah tak menciptakan sesuatu sia-sia, bahkan dari migrasi burung-burung.

*) Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan TGK Chik Pante Kulu dan pemerhati satwa liar Aceh.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here