Ilustrasi: the zoma engineers.

rmolaceh Pelaksana tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah diyakini mampu mendorong pembangunan ruas jalan membelah hutan menjadikan Aceh lebih baik. Latar belakang Nova sebagai insinyur adalah modal penting bagi pembangunan Aceh yang ramah lingkungan.

“Tentu saja membangun di wilayah hutan dengan tetap mempertimbangkan kelestarian hutan dan perlindungan terhadap koridor satwa perlu ilmu pengetahuan. Nova Iriansyah punya modal untuk melakukan hal itu,” kata pemerhati satwa liar, Azhar, kepada rmolaceh.id, Ahad, 26 Juli 2020.

Menurut Azhar, pembangunan sejumlah ruas jalan yang membelah hutan Aceh adalah hal penting agar tak ada daerah terisolir. Namun Pemerintah Aceh juga bisa membangun tanpa mengorbankan hutan Aceh.

Salah satunya adalah dengan membuat jalan layang di tengah hutan. Dari sisi teknik, kata Azhar, Aceh memiliki gubernur “tukang insinyur”. Sosok ini, kata Azhar, dapat mendorong pembangunan sejumlah ruas jalan, yang berada di perlintasan satwa liar, terutama gajah, dibangun sejajar dengan tinggi pucuk pohon besar.

Sementara dari sisi keuntungan, para kontraktor tak perlu khawatir karena jalan ini juga memberikan keuntungan yang besar. Tak berbeda dengan jalan biasa yang dibangun di atas tanah.

Menurut Azhar, tidak semua kawasan hutan Aceh menjadi perlintasan satwa liar. Artinya, Pemerintah Aceh tidak perlu membuat jalan layang sepanjang ruas jalan yang disepakati untuk dibangun. “Jalan layang itu cukup dibangun di perlintasan satwa liar. Dengan demikian, satwa-satwa itu tak perlu menyeberangi jalan untuk melintas,” kata Azhar.

Membangun jalan layang, kata Azhar, bakal melindungi hutan. Awalnya, kawasan tempat pembangunan tiang jembatan akan rusak. Namun kerusakan itu tidak permanen. Areal yang rusak akibat pembangunan akan ditanami kembali.

Jalan layang juga melindungi kawasan hutan. Jalan yang tinggi mengurangi potensi pembukaan kawasan, seperti rumah makan atau tempat berjualan di pinggir jalan, atau bahkan perkebunan. Jalan layang, kata Azhar, juga menutup akses pembalakan liar.

Pemerintah Aceh, kata Azhar, dapat mencontoh pembangunan Jalan Kelok Sembilan di Sumatera Barat. Pembangunan jalan layang Kelok Sembilan, jalan ini dibangun dengan konsep nature and engineering in harmony.

Di India, yang mirip dengan Aceh, Jalan Lintas Asia, yang membelah sebagian kawasan Taman Nasional Kaziranga, dibuat “melayang”. Di beberapa ruas, dibangun titik pemantauan satwa liar yang kini menjadi salah satu kawasan wisata. Panjang jalan layang di atas perlintasan satwa liar itu mencapai tujuh kilometer.

Membangun jalan konvensional di atas tanah, terutama membelah hutan, kata Azhar, malah berpotensi merugikan keuangan daerah. Selain kualitas yang sulit dikontrol, karena jalan itu jarang dilewati pejabat, jalan itu akan cepat rusak karena longsor dan hujan. “Sudah jadi rahasia umum kualitas jalan di daerah pedalaman rendah,” kata Azhar.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here