Ketua DPD RI, La Nyalla Mahmud Mattalitti. Foto: rmol.id

rmolaceh Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI La Nyalla Mahmud Mattalitti mengungkapkan empat Pimpinan Komite DPD RI menolak frasa “menarik kewenangan daerah ke pusat”. Frasa itu tercantum dalam RUU Cipta Kerja.

La Nyalla menilai frasa itu mengembalikan sistem pemerintahan menjadi sentralistik. “Ini bisa juga menghilangkan semangat otonomi daerah yang telah kita rintis sejak awal era reformasi,” kata La Nyalla dalam keterangan tertulis yang diterima rmolaceh.id, Sabtu, 25 Juli 2020.

Hal tersebut, kata La Nyalla, disampaikan kepada Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartanto saat mereka bertemu di Jakarta. Dalam pengantarnya, La Nyalla mengatakan bahwa terdapat frasa dalam RUU Cipta Kerja yang bertentangan dengan konstitusi.

La Nyalla menilai semangat sentralisasi perizinan dan kewenangan ke pemerintah pusat berpotensi merugikan daerah. La Nyalla menambahkan bahwa pimpinan alat kelengkapan DPD juga menilai hal ini bakal menghilangkan kepastian hukum sanksi pidana menjadi hanya sanksi administratif.

RUU tersebut, kata La Nyalla, menyebabkan delegasi pengaturan ke peraturan pelaksana di bawah UU dan kewenangan Presiden lebih gemuk. Mencabut perda di Pasal 166 RUU tersebut dipandang rawan melanggar putusan Mahkamah Konstitusi.

Menanggapi hal itu, Airlangga mengatakan pemerintah memang ingin mempercepat pembahasan RUU Cipta Kerja mengingat RUU ini adalah reformasi paling positif di Indonesia dalam 40 tahun terakhir, khususnya di bidang investasi dan perdagangan.

“Apalagi, dalam resesi global, RUU ini memberikan sinyal kepada dunia bahwa Indonesia kondusif dan terbuka untuk bisnis, ini penting di tengah sumber daya fiskal kita yang terbatas,” kata Airlangga.

Airlangga mengakui pemerintah kurang melakukan sosialisasi RUU tersebut. Sehingga menimbulkan banyak respons dari berbagai kalangan. Namun, pihaknya tetap mendengar dan berusaha mengakomodir masukan dari parlemen, baik DPR maupun DPD.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here