Ilustrasi: pinterest

Oleh Azhar*

Di Sumatera terdapat tujuh jenis kucing. Sebagian besar sering kita baca atau dengar dalam banyak cerita. Harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), macan dahan (Neofelisdiardi), kucing batu (Pardofelismarmorata), kucing emas (Catopuma temmincki) dan kucing dahan (Prionailurusbengalensis), kucing bakau (Prionailurus viverrinus) serta kucing rumah/domestic cat (Felis catus) yang biasa dipelihara.

Harimau adalah hewan terrestrial karnivorater besar dari semua kumpulan mamalia di Asia. Hewan ini adalah pemangsa khusus herbivora. Sedangkan kucing adalah satwa terkecil dari jenis kucing. Berpewarakan sama dan hanya beda tubuh dan habitat.

Kucing mengeong sementara harimau mengaum. Dan ini merupakan suara penanda territorial yang akan mengintimidasi satwa, mangsa, bahkan manusia. Keberhasilan bertahan hidup dan kemampuan adaptasi dua binatang ini teruji oleh siklus alam. Harimau sumatera hidup di rimba Sumatera dan kucing hidup di lingkungan yang didominasi oleh manusia.

Peran harimau di alam liar sebagai satwa karnivora adalah menjaga keseimbangan ekosistem, menjaga stabilitas populasi satwa mangsa–agar kapasitas daya dukung lingkungan mencukupi.

Kucing telah berbaur dengan kehidupan manusia paling tidak sejak 6.000 tahun SM, Orang Mesir Kuno dari 3.500 SM telah menggunakan kucing untuk menjauhkan tikus atau hewan pengerat lain dari lumbung yang menyimpan hasil panen. Dan kucing memang hewan karnivora.

Dominasi Manusia dan Menjadi Teman Manusia
Memahami faktor-faktor yang menerangkan adaptasi sejarah kehidupan harimau dan konsekuensi dari adaptasi tadi merupakan cara untuk memahami bagaimana kita dapat mengharapkan harimau bereaksi terhadap perubahan lingkungan secara besar-besaran yang terjadi di Sumatera.

Harimau sumatera menampilkan sosok yang kompleks dalam benak kita sehingga sangat mempengaruhi penilaian kita dan usulan kita tentang masalah pelestarian mereka. Sebaliknya, peran manusia merespons kucing sebagai teman dari zaman dahulu hingga saat ini. Saat harimau dianggap angker dan buas, maka kucing disayang karena lembut dan jinak.

Stimulasi pandangan dan cara hidup berdampingan ini membuat hubungan erat antara manusia dan kucing. Inilah faktor kenapa kunci-kucing mampu bertahan hidup. Sebaliknya kejadian buruk terus menimpa harimau sumatera. Banyak kasus harimau yang memangsa ternak dan membunuh manusia, apakah karena harimau terlalu besar, superior dan garang hingga harus dibinasakan?

Harimau diburu. Rumahnya, rimba Sumatera, terus menerus terdegradasi. Sedangkan kucing bertaburan hidup di seluruh kota. Kucing hidup berasosiasi mutualistik dengan manusia. Ini merupakan kemampuan internal adaptasi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya.

Kemampuan kucing dan harimau ada pada kemampuan beradaptasi. Pertama adaptasi fisiologi adalah penyesuaian diri makhluk hidup melalui fungsi kerja organ-organ tubuh supaya bisa bertahan hidup. Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian diri terhadap lingkungan dengan mengubah tingkah laku supaya dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Meskipun harimau dapat bergerak bebas, hewan juga melakukan beragam adaptasi morfologi untuk menyesuaikan dengan tempat hidup dan jenis makanannya. Adaptasi morfologi adalah berupa penyesuaian tubuh hewan seperti ukuran dan bentuk gigi, penutup tubuh, dan alat gerak hewan.

Harimau menjadi mahkluk garang dan perkasa, secara alami telah berkompetisi menjadi musuh manusia dan secara alam antara dua mega predator harus saling bunuh atau dibunuh. Harimau harus ditaklukan. Mungkin ini sudah hukum alam.

Dengan kata lain jika tak membunuh harimau secara langsung, maka hancurkan saja habitatnya. Dengan begitu pasti harimau aka binasa. Atau harimau terlalu besar habitatnya di hutan alam sumatera, lalu hutan pun harus dihancurkan, sehingga secara ekologi akan terjadi fragmentasi habitat dan harimau menjadi punah karena kehilangan sumber makanan.

Sedangkan kucing dapat dilihat bertebaran di pusat kota, di habitat manusia dan menjadi tempat kucing-kucing bertahan hidup. Kota dan pemukiman menjadi tumpuan tempat mencari makan. Rantai makanan tersedia bahkan berlimpah. Bak sampah, pasar ikan dan gang kotor yang sempit menyediakan sumber pakan utama. Evolusi pakan membuat kucing mempu bertahan secara alami di kota yang bising, dari rumah mewah hingga pasar pasar kumuh.

Saat ini, masalah lainnya adalah terlalu banyak orang yang memusuhi harimau. Seruan: harimau teman manusia adalah bahkan diyakini sebagai pendapat yang terlalu optimis. Hanya sebagaian kecil masyarakat, biasanya pelaku dan penggiat konservasi, yang benar-benar mau melindungi harimau. Sementara orang-orang kaya memelihara, membeli harimau sebagai satwa kebanggaan dan dikandangkan seperti kucing.

Perkara buruk lainnya adalah mutilasi tubuh harimau. Potongan kulit, kuku, kumis harimau dijadikan obat tradisional. Data tercatat hampir 70 persen hutan Sumatera rusak parah. Mengingat laju kerusakan hutan dan perburuan harimau, suatu nanti harimau sumatera mungkin harus didomestikkan atau diternakkan dengan perlindungan khusus.

*) Penulis adalah pemerhati satwa liar Aceh. Menetap di Banda Aceh.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here