Tgl Jalil Bin Ismail di sebuah warung kopi saat berkunjung ke Aceh, beberapa waktu lalu. Foto: ist

rmolaceh Tgk Jalil Bin Ismail, 80 tahun, meninggal dunia di Swedia, Kamis lalu. Dia merupakan salah satu sosok yang terlibat dalam gerakan Aceh Merdeka di kawasan Barat-Selatan.

Jalil dikabarkan meninggal dunia karena corona. Suami Rohani dan ayah dua putri, tiga putra dan kakek dari 13 cucu, ini menghembuskan nafas terakhir di kediamannya Norsborg, Stockholm, Swedia.

Pejuang Aceh Merdeka angkatan perdana ini diterbangkan langsung ke Stockholm sekitar pertengahan 1983 oleh pihak UNHCR via Bandara Sepang, Kuala Lumpur, setelah beberapa bulan berpindah-pindah di sejumlah kamp pengungsian.

Bang Jali atau Yahwa Jali, panggilan akrabnya, pada 1979 sempat ditangkap Intel Kodim 105, Aceh Barat. Saat itu, Komando Keamanan dan Ketertiban dikendalikan oleh Jenderal Sudomo. Menurut cerita, dia sempat mendapatkan perlakuan tak mengenakkan selama menjalani masa penahanan. Bahkan, dia sempat direndam beberapa malam di kompleks Makorem 112 Teuku Umar, Ujung Kareueng, Melaboh, Aceh Barat.

Ketika itu Jalil dan rekan-rekannya dituduh membakar sejumlah alat berat pemotong dan pengangkat kayu balok di Keunareueh, Setia Bhakti. Jalil juga dituduh menebar teror dan sempat ditahan di LP Keudah, Banda Aceh, selama dua tahun.

Saat dilepaskan dari tahanan dengan label narapidana politik, Jalil terlebih dahulu disumpah di bawah kitab suci Alquran untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Namun Jalil hanya menetap beberapa bulan di kampung istrinya, di Panga, dan kampung kelahirannya, Krueng Sabee. Dia merasa tak nyaman karena gerak-geriknya selalu dipantau aparat militer saat itu.

Syahdan, pada suatu hari, Jalil menyelinap ke dalam truk kayu menuju Banda Aceh. Dia sempat singgah di Panglong kayu terbesar di Seutui, Banda Aceh, milik M Kasim Basyah.

Keesokan harinya, Jalil melanjutkan perjalanan menuju Pidie untuk bertemu dengan panglima perangnya, Daud Paneuk, dan para pejuang Aceh Merdeka lainnya.

Dari sini, keluarga Jalil sempat kehilangan jejak, beberapa bulan. Akhirnya, keluarga di kampung mendapatk kabar bahwa Jalil menetap di Kebun Bukit Jin milik M Noer NS, salah seorang sepupunya, di Dumai, Riau.

Lewat jalur laut Dumai-Malaka pula Jalil dan teman seperjuangannya meloloskan diri ke Malaysia hingga sampai ke Swedia. Dia juga membawa serta keluarganya, beberapa tahun kemudian ke sana.

Beberapa tahun belakangan ini, setelah Aceh tak lagi berperang dengan republik, Jalil sekeluarga sering berkunjung ke kampung halamannya. Namun kali ini, dia pulang berstatus warga negara asing.

“Saya pulang ke kampung ini harus bayar visa,” kata Jalil seperti yang diceritakan oleh Adnan NS, sepupunya, Jumat, 22 Mei 2020. Saat berada di Aceh, kata Adnan, dia mengaku sangat senang.

Jalil, saat itu, bahkan mengunjungi Tanah Gayo. Neneknya, Markabah, adalah perempuan berdarah Gayo keturunan Ilyas Leubee yang juga tokoh DI/TII dan dedengkot AM. “Saya berharap kita meluangkan diri untuk berdoa. Semoga Allah mengampuni semua dosanya,” kata Adnan. [r]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here