rmolaceh Bencana banjir dan angin kencang yang melanda sebagian daerah Propinsi Aceh, dalam kurun sepekan terakhir, menyebabkan kerugian material. Karena itu, seluruh elemen di Aceh perlu mewaspadai fenomena ini. 

“Meningkatnya ancaman bencana alam, seperti banjir dan tanah longor, terutama akibat perubahan iklim, karena kenaikan suhu udara yang memicu cuaca ekstrim,” kata Ketua Forum DAS Krueng Peusangan, Suhaimi Hamid, Kamis, 21 Mei 2020.

Dalam satu studi yang dilakukan Program Shared Resources Join Sollution, yang belum lama dirilis, telah dibuat skenario dampak perubahan iklim di Aceh akibat meningkatnya suhu udara global antara 2 sampai 4 derajat celcius antara tahun 2030 – 2070.

Perubahan iklim saat ini sudah terjadi. Menurut Suhaimi, cuaca ekstrim, seperti curah hujan tinggi, akan memperburuk dampak dari kerusakan hutan akibat illegal logging dan perambahan kawasan hutan. 

Penelitian itu juga menyebutkan bahwa perubahan iklim ini menaikkan curah hujan sebesar 24 persen selama kuartal basah dalam setahun. Curah hujan yang tinggi akan meningkatkan debit air di sungai, membanjiri daerah daratan dan pesisir.

“Untuk itu kita perlu meningkatkan perlindungan terhadap daerah-daerah sepanjang aliran sungai dan juga kawasan hutan, sehingga dampak erosi dan longsor bisa dikurangi,” kata Suhaimi.

Akibat meningkatnya suhu global, kata Suhaimi, Aceh juga akan mengalami ancaman naiknya permukaan air laut. Hal ini mengancam daerah-daerah pesisir terutama di bagian timur Aceh. Masyarakat harus dipersiapkan sedini mungkin.

Menurut studi yang dilaksanakan bersama konsorsium program SRJS tersebut, kenaikan permukaan air laut dapat menimbulkan konsekuensi yang parah bagi keamanan pangan (lokal) dan proteksi daerah pesisir, akuakultur (budidaya perairan) dan hutan bakau adalah yang paling terkena dampaknya. Pemukiman manusia di daerah pesisir, dan pertanian dataran rendah, akan mengalami dampak kenaikan permukaan air laut.

“Untuk itu daerah pesisir harus mempertahankan keberadaan hutan bakaunya seperti Aceh Timur, Langsa dan Aceh Tamiang agar dampak perubahan iklim ini bisa dimitigasi,” kata Suhaimi.

Suhaimi mengingatkan semua pihak untuk tidak memperburuk kondisi dengan membiarkan pengrusakan hutan. Karena saat ini keberadaan hutan akan menjadi benteng saat berhadapan dengan perubahan iklim yang sedang terjadi.

“Aceh telah kehilangan tutupan hutan rata-rata sekitar 15 ribu hektaer per tahun. Jika ini dibiarkan berlanjut, maka Aceh akan menjadi kawasan yang sangat rentan bencana di masa depan,” kata Suhaimi. [r]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here