Ilustrasi/Net

rmolaceh Sebagian besar, kalau tidak dapat dikatakan hampir semua, peserta Program Kartu Prakerja merasa program ini efektif dalam meningkatkan kompetensi mereka. Juga sebagian besar peserta program ini tidak setuju bila Program Kartu Prakerja disebut sebagai program mubazir.

Hal ini terlihat dari survei yang dilakukan Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) antara tanggal 3 Mei sampai 15 Mei lalu.

Menurut Direktur Eksekutif LKPI, Andri Maulana, seperti dilansir Kantor Berita Politik RMOL, kelompok masyarakat yang mereka suvei adalah peserta program Kartu Prakerja sebanyak 1.315 responden.

Untuk pertanyaan apakah peserta program Kartu Prakerja menilai program ini efektif dalam meningkatkan kompetensi, sebanyak 90.7 persen menjawab efektif, dan sisanya 9,3 persen menjawab tidak.

Sementara untuk pertanyaan apakah peserta setuju dengan pandangan yang mengatakan program ini tidak bermanfaat, sebanyak 93,1 persen menjawab tidak setuju, yang artinya menurut mereka program ini bermanfaat.

Dalam survei juga diketahui bahwa 96,7 persen responden telah mendapatkan insentif tunai dari pemerintah sebesar Rp 600 ribu.

Dari latar belakang responden diketahui bahwa sampai bulan Januari 2020 sebanyak 64,8 persen adalah pegawai, buruh, atau karyawan. Adapun 26,8 persen tidak berkerja, dan 8,4 persen memiliki usaha.

Ketika survei dilakukan, jumlah responden yang bekerja turun drastis menjadi 15,2 persen, dan jumlah yang tidak bekerja meningkat tajam menjadi 78,9 persen. Selebihnya, kelompok yang memiliki usaha juga mengalami penurunan.

Sebagian besar responden, masih dalam survei itu mengaku tidak menemui kesulitan berarti dalam mengakses situs Program Kartu Prakerja. Hanya 6,4 persen yang menyatakan sering mengalami kesulitan. Juga, hanya 11,3 persen responden yang benar-benar mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tahap pendaftaran program.

Sebanyak 29,4 persen responden mengatakan menyelesaikan pendaftaran antara 30 menit sampai satu jam, diiktui kelompok yang menyelesaikan pendaftaran lebih dari satu hari (29 persen), antara satu jam sampai satu hari (22,4 persen), dan kurang dari 30 menit (19,3 persen.   

Dari delapan praltform, “Skill Academy” menjadi platform yang paling diminati peserta dengan angka sebesar 75,5 persen. Diikuti “Sekolahmu” (10,3 persen), “Sisnaker” (9,9 persen), “Tokopedia” (8,2 persen), “Pintaria” (8 persen),  “Bukalapak” (5,4 persen), serta “Pijar Mahir” dan Maubelajarapa” yang sama-sama memperoleh 3,1 persen.

Hampir semua responden, 98,8 persen, menyatakan membaca deskripsi pelatihan yang terkait dengan materi, lama pelatihan, pengajar, dan manfaat saat memilih program.

Andri Maulana juga mengatakan, survei yang menggunakan metode Simple Random Sampling itu memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan Margin of Error sekitar 2,7 persen.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here