Ilustrasi: KNAU

Oleh Profesor Ahmad Humam Hamid*

Ketika hari-hari ini kita mendapat peringatan dari BMKG tentang ganasnya gelombang Samudra India yang mencapai ketinggian lebih dari 4 -5 meter, berikut dengan puting beliung di daratan, hal itu sesungguhnya bukanlah fenomena hari ini. Demikian juga dengan peringatan kewaspadaan dari Badan Penanganan Bencana Daerah, tentang potensi banjir dan longsor. Semua itu sesungguhnya telah ada dengan variasi intensitas selama berabad-abad. Bedanya kini telah ada alat canggih digital yang mampu mengukur semua fenomena itu, dan pada saat yang sama tersambung pula dengan siapapun yang memiliki android, sehingga semua orang kini tahu tentang cuaca setiap saat dengan berbagai ikutannya.

Sebagaimana ditulis dalam text book ilmu Iklim, tidak ada lautan atau samudra manapun di dunia yang mempunyai keunikan seperti Samudra India-kita menyebut Samudera Indonesia. Keunikannya tidak terletak pada luasnya yang sangat besar, ataupun pada kayanya keanekaragaman hayati kelautan, ataupun pada catatan jumlah perompak laut masa lalu. Keunikannya terletak pada udara yang mengalir silih berganti sepanjang tahun, angin, yang di dalam istilah ilmu iklim diberi nama “monsoon”.

Ada banyak penjelasan yang ditulis oleh para ahli tentang mengapa monsoon ini terjadi dan membuat Samudra Hindia berbeda dengan Samudra Pasifik, atau Samudra Atlantik. Namun apapun penjelasan yang diberikan, esensinya monsoon adalah fenomena pergerakan udara akibat terjadi perubahan tekanan udara secara ekstrim, setiap enam bulan sekali antara dataran India sampai ke Tibet di satu sisi, dengan benua Australia di sisi yang lain.

Pada bulan Oktober sampai dengan April, matahari berada di belahan bumi Selatan, membuat Australia menjadi panas, sedangkan di daratan Asia-India, musim dingin. Akibatnya udara yang bertekanan maksimum-dingin berpindah kearah udara maksimum-panas, dan karena bertemu dengan equator maka massa air Laut Cina selatan dan Samudra Pasifik air dibelokkan ke kiri, yang membuat Indonesia, Malaysia, Brunei,Thailand. dan Myamar, mengalami musim hujan. Nelayan Aceh menyebutnya dengan musem barat.

Sebaliknya pada bulan April sampai dengan Oktober, angin berhembus kebalikan dari sebelumnya. Orang Aceh menyebutnya dengan musem timu, angin yang berhembus dari Australia menuju daratan Asia. Ketika massa udara bertemu dengan khatulistiwa, maka angin berbelok ke kanan, yang kemudian membuat musim kemarau di Indonesia, Malaysia, Brunei,Thailand. dan Myamar.

Konektivitas dan Peradaban

Dalam salah satu buku best seller Amazon 2012, Monsoon; The Indian Ocean and the Future of American Power yang ditulis oleh seorang pemikir AS, Robert.D. Kaplan, diuraikan tentang keunikan non iklim dari fenomena monsoon. Ia mengupas fenomena iklim ini dalam lintasan sejarah ribuan tahun lalu yang mendefinisikan perkembangan peradaban kawasan, mulai dari Oman, Yaman, India, Pakistan, Sri Lanka, Malaysia, Indonesia, Brunei, Myanmar sampai Somalia, Tanzania, Zanzibar dan kawasan Afrika lainnya.

Sekalipun kata monsoon pada awalnya ditemukan dalam kepustakaan Portugis-moncou-dan Belanda-monssoen- sesungguhnya kata itu dipinjam dari bahasa arab mawasim-yang berarti musim, sebuah periode tertentu untuk perjalanan, pelayaran, atau berbagai kegiatan lain yang berhubungan dengan fenomena cuaca dan iklim. Penggunaan kosakata monsoon dalam kepustakaan Portugis dan Belanda menunjukkan betapa ekspansi kolonial yang mereka jalankan merupakan gabungan kecanggihan teknologi maritim yang mereka miliki dipadukan dengan meminjam ilmu dan kearifan lokal bangsa Arab.

Penguasaan kelautan bangsa Arab dan pelayaran mereka yang berkaitan dengan monsoon sebenarnya dapat ditelusuri dalam cerita mitos legendaris Arab, “Sinbad si Pelaut” yang mendemonstrasikan sebuah gudang “pengalaman sosial” yang sangat kaya orang Arab tentang berbagai aspek kelautan. Mungkin beranjak dari sinilah Kaplan kemudian menjelaskan tentang bagaimana kombinasi agama dan perdagangan bangsa Arab, menjadikan Islam sebagai agama merkantilis yang menyebar selama berabad dalam kolam besar monsoon di Asia dan Afrika. Intinya monsoon memastikan para pengembara, pedagang, dan pendakwah untuk pergi dan pulang mengikuti musim timur dan barat, jauh sebelum James Watt menemukan mesin uap yang memperlancar penjajahan bangsa-bangsa Eropah ke wilayah Asia, Afrika, dan Amerika.

Istilah merkantilis sebenarnya lebih berkaitan dengan pedagang, sudagar, dicirikan dengan kegiatan perdagangan hasil bumi dan kerajinan dan dalam konteks monsoon dikembangkan oleh para pedagang Islam. baik dari Timur Tengah, terutama Hadaralmaut, Yaman, maupun para pedagang muslim India dari Gujarat. Melalui kapitalis merkantilis inilah kemudian kita menyaksikan perkampungan atau turunan Arab-Sayid, Habib di berbagai tempat di Nusantara,-Aceh, Jawa, Sulawesi, Ternate, sampai ke Fakfak dan Raja Empat Jayapura.

Tidak hanya perkembangan agama Islam yang datang belakangan, agama Budha dan Hindu yang datang lebih awal juga difasilitasi oleh monsoon, sehingga tidak mengherankan ketika komponen budaya nusantara ditelusuri secara lebih jauh menampakkan betapa budaya Indonesia yang bervariasi dengan kulit yang berlapis, terpaut dengan elemen-elemen agama yang berurusan dengan monsoon. Tidak berlebihan untuk menyebutkan kalaulah hari ini kita menemukan berbagai tempat ibadah mereka di kawasan muslim sekalipun, seperti di Keudah Banda Aceh dan berbagai tempat lain di Nusantara yang sifatya lebih kontemporer, itu juga merupakan “produk” dari monsoon dengan waktu yang berbeda pula.

Dari berbagai pengamatan kontemporer kehidupan ummat Islam di seluruh dunia, ditemukan bahwa Islam nusantara secara relatif lebih toleran. Sangat jarang ditemukan elemen radikal-kecuali di beberapa tempat- yang belakangan ini bersentuhan dengan gerakan fundamentalisme Islam global yang umumya berbasis di Timur Tengah. Mengomentari fenomena ini Kaplan membuat sebuah dikotomi yang diistilahkan dengan “desert Islam“ -islam padang pasir, dengan narasi potensi keras dan radikal dan “tropical Islam”- islam Asia Tenggara, yang cenderung inklusif dan toleran.

Terhadap fenomena ini sesungguhnya tidak sulit untuk dimengerti, karena Islam yang berkembang dalam “kolam” monsoon adalah Islam merkantilis yang mempunyai daya persuasif yang sangat kuat. Hal ini tentu sangat berbeda dengan perkembangan Islam di daratan Arab yang lebih banyak terjadi dengan cara “penaklukan”. Oleh karena “nature” pedagang yang “non konfrontatif”, persuasif, dan sabar, maka proses Islamisasi memerlukan waktu yang relatif lama, terutama ketika berhadapan dengan elemen-elemen budaya sebelumya, dan bahkan cenderung tidak selesai. Hal ini paling kurang dicirikan dengan fenomena islam sinkretis yang lebih banyak ditemui di pulau Jawa (Geertz 1969).

Kombinasi antara “derham” dan “syariat” inilah yang kemudian memberikan sebuah “flexibilitas unik” tentang adopsi praktek-praktek lokal yang masih berlanjut sampai dengan hari ini yang merupakan keunikan tersendiri bagi Islam di seluruh pelosok nusantara. Kalau hari ini, misalnya kita mengundang para ulama dari Timur Tengah dan menghabiskan tenggat waktu tertentu di tempat kita, akan banyak sekali pertanyaan yang mereka ajukan dan akan dijawab dengan siap oleh ulama kita yang sebagian akan mereka terima, dan sebagian lagi mungkin memerlukan waktu untuk penjelasan yang lebih memuaskan, atau bahkan mungkin mereka tolak.

Seiring dengan berkembangnya Aceh sebagai pusat perdagangan-yang juga bergantung kepada monsoon- maka di Aceh, terjadi pula asimilasi dari berbagai budaya dan bahkan mixture berbagai bangsa yang kemudian melahirkan fisik Aceh dengan berbagai postur dan wajah :Timur Tengah, Persia, India, Thailand, dan bahkan Eropa. Demikian juga dengan kuliner yang penuh dengan rempah yang, seakan membuat Aceh menjadi “sendiri” dalam mozaik budaya nusantara. Barangkali, seluruh “variabel penjelas “ dari fenomena Panglima Tibang-keturunan Afghanistan, para raja dari dinasti Jamalul Lail, kluster keturunan Portugis di Lamno, dan bahkan Ulama Besar dari Ranir India, Nuruddin Ar-Raniry adalah bukti pengaruh monsoon di Aceh Monsoon masa lalu juga mengubah landskap pertanian pangan Aceh pada awal abad ke 17. Pada masa raja Ali Riayat, Bustanus Salatin meriwayatkan kekeringan dan kelaparan yang melanda Aceh, untuk kemudian dibedakan dengan masa Iskandar Muda yang peluang lapar masyarakat Aceh sangat kecil, karena semua orang berpeluang untuk makan. Dua puluh tahun setelah itu Admiral Beaulieu (1666), seorang jenderal angkatan laut Perancis yang singgah di Aceh pada masa Iskandar Muda mencatat akibat Daya dan Pidie tidak sanggup memasok beras kebutuhan Banda Aceh, sehingga terpaksa di impor dari Malaysia.

Fenomena kekurangan pangan Aceh kemudian dimanfaatkan oleh pedagang Inggris dan Denmark, dengan mendatangkan beras dari India, berikut dengan budak- bahasa Aceh, lamiet- yang kemudian membuka sejarah baru pertanian padi Aceh. Perdagangan budak sesungguhnya mempunyai lembaran tersendiri dalam sejarah Aceh. Pada masa Iskandar Muda, disamping mempunyai 22.000 budak yang didapatkan dari tawanan perang kawasan non islam, Aceh juga menjadi salah satu pasar penting budak Asia Tenggara. Seperti ditulis dalam The Cambridge World History of Slavery: Volume 3, AD 1420-AD 1804, keterkaitan antara perdagangan budak dengan Aceh sudah terjadi pada abad ke 15, ketika jaringan pedagang Islam membawa budak dari Madagaskar, Pantai Timur Afrika,dan bahkan dari Timur Tengah ke Aceh (T (David Eltis et al 2011). Bukankah ini dimungkinkan karena monsoon?

Dalam hal pertanian padi, maka Aceh berutang kepada pedagang asing yang telah membawa budak dari pantai Coromandel India, sebuah kawasan yang terletak sebelah tenggara semenanjung India, antara negara bagian Andhra Pradesh dan Tamil Nadu -India hari ini. Salah satu kota yang sangat terkenal sampai dengan hari adalah Madras- sekarang diganti nama, Chenai. Sukar membayangkan pertanian padi dalam skala dan tehnik yang memadai sebelum para budak pantai Coromandel dibawa ke Aceh. Para budak yang dibeli oleh pedagang dan kemudian dibeli lagi oleh penguasa lokal pada umumnya dipekerjakan di kawasan Aceh besar, dan persawahan sepanjang pantai Timur Aceh, mulai dari Pidie, Bireun, dan Pasai.

Tidaklah mengherankan dalam konteks Aceh kontemporer, memasuki desa-desa pantai Timur penghasil padi, terasa benar seolah kita berada di kawasan Tamil Nadu atau Andar Pradesh India. Perbudakan di Aceh pada masa itu digambarkan oleh Beaulieu sama sekali tidak sama dengan sistem perbudakan di tempat lainnya. Pemilik budak menyerahkan kepada seorang budak lain sejumlah budak untuk bekerja. Sang kepala budak itulah yang akan mengatur kewajiban pekerjaan. Para budak juga hidup terlepas secara fisik dari tuannya dan bertugas mengerjakan pekerjaan yang telah ditetapkan.

Klaim ini juga mendapat dukungan yang kuat dengan salah satu tradisi kuat pemakaian kain sarung palekat di kalangan masyarakat Aceh, terutama di kawasan pantai Timur, bahasa Aceh-ija palikat. Nama palekat, sesungguhnya berasal dari kota pelabuhan ekspor kain pada masa itu, kota Pulicat. Kalaulah hari ini Aceh menjadi salah satu provinsi surplus beras nasional, maka asbabun nuzulnya berurusan dengan monsoon, Chenai, dan pedagang budak, terutama Inggris dan Denmark, dan itu terjadi ketika Iskandar Muda berkuasa (Dampier, dalam Lombard 1991).

Monsoon bagi India dan Asia Tenggara adalah anugerah dan tak jarang juga menjadi musibah. Di India dan Bangladesh, monsoon adalah kehidupan karena membuat jutaan penduduk melakukan kegiatan pertanian, dan itu artinya kemakmuran. Dilain pihak monsoon yang dicirikan oleh badai cyclon yang hebat, seperti yang sedang berlangsung dalam beberapa hari ini -cyclon Amphan-adalah malapetaka, karena air laut akan merendam perkampungan, menghancurkan infrastruktur, dan menghancurkan kehidupan, terutama pertanian rakyat yang akan berpengaruh terhadap jutaan penduduk.

Dalam beberapa tahun terakhir perilaku monsoon telah banyak berubah, terutama akibat perobahan iklim global. Kini bencana alam yang terjadi di negara-negara sabuk monsoon telah sering terjadi dengan tingkat keparahan yang lebih buruk dibandingkan dengan beberapa abad yang lalu. Cerita tentang monsoon kini telah berubah, terutama interkoneksi ekonomi, agama, budaya, dan mobilitas. Mode interkoneksi klasik perpindahan, barang, manusia, pengetahuan dan ide-ide, melalui transportasi kelautan masih tetap berjalan, namun ikon monsoon kini telah beralih menjadi simbol interkoneksi kemanusian yang baru. Interkoneksi itu adalah bencana alam. Perubahan iklim global telah membuat monsoon membuka sejarah baru dalam perjalanan peradaban manusia.

*) Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here