Tengku Ahmad Dadek. Foto: basajan.net

rmolaceh Tengku Ahmad Dadek, Komisaris PT Pembangunan Aceh, mengatakan tidak mungkin pihaknya memenuhi permintaan PT Trans Continen untuk membangun sejumlah infrastruktur di Kawasan Industri Aceh Ladong, Aceh Besar, secepat kilat.

Hingga saat ini, PT Pembangunan Aceh (PEMA), sebagai perusahaan daerah, belum melakukan pembangunan apapun di kawasan itu. Sementara, Trans Continen mengklaim telah berinvestasi dengan meletakkan sejumlah peralatan kerja di kawasan itu dan menariknya kembali. Trans merasa tidak ada kejelasan dari Pemerintah Aceh dan PT PEMA.

Dadek mengatakan, perlu waktu dan dana besar untuk melengkapi fasilitas dan infrastruktur pendukung lain di Ladong, seperti pagar keliling, lampu jalan untuk seluruh areal, drainase, dan pengaspalan jalan. Dana yang dibutuhkan, kata Dadok, sekitar Rp 50 miliar.

Semua kebutuhan itu, kata Dadek, butuh penempatan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh 2021. Permintaan tersebut baru resmi dilayangkan pada tahun 2019 dan awal 2020, di saat APBA 2020 rampung dibahas. “Mereka seperti memaksa kami membangun seperti Roro Jonggrang memaksa membangun Candi Prambanan,” kata Dadek, Selasa, 19 Mei 2020.

PEMA, kata Dadek, juga berusaha melengkapi fasilitas itu, dengan mengambil kredit ke Bank Aceh Syariah, namun permintaan ini ditolak karena tidak masuk dalam hitungan bisnis Bank Aceh, bahkan jika PEMA menggunakan hasil usaha yang selama ini ada.

Ketiadaan perjanjian antara PEMA dan Trans, yang diwakili oleh CEO Ismail Rasyid, membuat Trans bebas memasukan peralatan Ladong dan juga memindahkan dari sana. Ismail, kata Dadek, juga mengajukan permintaan yang berlebihan karena meminta pembangunan pagar keliling di sementara perusahaan itu hanya menggunakan 10 persen dari luas areal yang disediakan Pemerintah Aceh.

Dadek mengatakan Trans menggunakan tanah dan fasilitas di KIA dengan cuma-cuma. Bahkan di saat belum ada perjanjian antara PEMA dan TC. Berdasarkan surat dari PT Trans Continent tanggal 28 Desember 2018 kepada perusahaan pemerintah yang menyatakan bahwa setelah mengikuti lauching KIA Ladong, perusahaan tersebut sangat berkeinginan untuk melaksanakan investasi berupa membuat Pusat Logistik Berikat (PLB).

Surat tersebut langsung dibalas manajemen Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh pada 20 Desember 2018. Isinya, manajemen PT PDPA mengharapkan kerja sama bisnis dengan Trans Continent dalam kerja sama bisnis Pusat Logistik Berikat (PLB) di Kawasan Industri Aceh Ladong dan meminta membahas rencana bisnis yang ada.

Kemudian PT Trans Continent satu bulan lalu kalau langsung membawa beberapa peralatan yang ditempatkan di KIA Ladong, padahal perjanjian antara PT Pema dengan PT Trans Continen masih dalam penjajakan..

“Seharusnya, ada perjanjian B to B dulu sebelum PT Trans Continen membawa alatnya ke KIA Ladong. Ini adalah prinsip investasi yang profesional,” kata Dadek.
Kejanggalan lain, kata Dadek, terlihat saat rapat pertama, sekitar dua bulan. Dadek, saat itu, meminta komitmen Ismail jika PT PEMA memenuhi keinginannya. Namun, kata Dadek, dia hanya menjawab akan meneken perjanjian kerja sama setelah PT PEMA memenuhi komitmennya. Anehnya, kata Dadek, Ismail tetap membawa masuk sejumlah alat beratnya ke KIA Ladong.

Sebelumnya, manajemen Trans Continent menarik semua peralatan kerja yang sejak sembilan bulan lalu ditempatkan di Ladong. “Kami perlu kepastian hukum. Sampai sekarang belum ada perjanjian tata kelola lahan KIA,” kata Ismail.

Keputusan ini memang tidak mudah bagi Ismail. Menarik kembali alat-alat kerja dari KIA Ladong jelas membutuhkan biaya besar, sama seperti saat mengerahkan peralatan ke Ladong, di awal-awal Pemerintah Aceh merencanakan kawasan industri tersebut.

“Jika pun belum berhasil, jelas itu bukan berasal dari kami. Ini semua karena pemerintah belum menginginkan dan tidak mendukung. Saya anggap semua yang telah kami lakukan ini sebagai wakaf,” kata Ismail. “Yang saya dengar, ada pejabat di level tinggi yang tidak menginginkan Trans Continent berinvestasi di Aceh.” [r]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here