Sarjan, pejalan kaki dari Jakarta ke NTB.

rmolaceh Setelah berjalan kaki selama 19 hari dari Jakarta, Sarjan, mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, tiba di kampung halamannya, Bima, Nusa Tenggara Barat.

“Saya ke rumah nenek, kebetulan lagi sibuk untuk persiapan buka puasa. Pas saya datang, pada kaget, pada nangis semua. Kebetulan orang tua saya masih di ladang. Nah dikasi tahu sama adik saya, dan datang melihat saya, ya nangis juga liat saya,” ucap Sarjan, kemarin.

Kabar kedatangan Sarjan pun menyebar cepat. Sejumlah tetangga hingga kerabat dari kampung sebelah pun beramai-ramai menemui Sarjan. Kebanyakan mereka penasaran tenang apa yang dialami Sarja selama berjalan kaki dar Tangerang Selatan hingga ke NTB. Apalagi, perjalanan ini telah mereka ketahui sebelum Sarjan sampai ke kampung dari media massa.

“Sampai malam, pada datang semua orang sekampung. Kebetulan masih keluarga semua, ngelihat saya. Ya, nanya-nanya gimana perjalanan, istirahatnya di mana. Soalnya di sini juga pada lihat berita, pada khawatir juga. Ada yang waswas juga soalnya kan lagi marak pembegalan dan lain-lain,” kata Sarjan.

Sarjan berkerja di ladang usai menempuh perjalanan panjang dari Jakarta ke Bima, NTB.

Kepada Kantor Berita Politik RMOL, pemuda asal Desa Rato, Kecamatan Parado, Kabupaten Bima, itu mengaku senang sekaligus haru lantaran bisa sampai rumah dengan selamat pada Kamis lalu.

Menurut Sarjan, setelah menghabiskan 17 hari sampai di Lombok, dia masih butuh dua sampai tiga hari lagi jika berjalan kaki menuju kampung halamannya di Bima.

Sarjan mengaku sedikit kecewa karena setelah berjalan kaki selama 17 hari, hingga sampai di Lombok, dia dilarang keluarganya untuk meneruskan perjalanan ke Bima dengan berjalan kaki. Orang tuanya melarang atas alasan keamanan. Sarjan mengiyakan permintaan keluarganya untuk dijemput oleh seorang teman.

Sarjan menghabiskan waktu sekitar 19 hari untuk sampai di rumahnya. Dia bersyukur bisa pulang ke kampung halaman dengan selamat. Lika-liku perjalanan yang pedih hingga kakinya lecet-lecet menjadi pengalaman hidup yang tak ternilai harganya. Sarjan mengaku bahagia bisa berkumpul dengan keluarga tercinta dan dapat membantu ayah dan ibu, menggarap ladang mereka. [r]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here