Zubir Sahim, Nova Irianysah dan Ismail Rasyid. Foto: ist

rmolaceh Cerita PT Trans Continent di Kawasan Industri Aceh, Ladong, Aceh Besar, layu sebelum berkembang. Perusahaan pertama yang berinvestasi di kawasan industri itu menyatakan mundur.

Manajemen perusahaan menarik semua peralatan kerja yang sejak sembilan bulan lalu ditempatkan di Ladong. “Kami perlu kepastian hukum. Sampai sekarang belum ada perjanjian tata kelola lahan KIA,” kata chief executive officer PT Trans Continent, Ismail Rasyid, Sabtu, 16 Mei 2020.

Keputusan ini memang tidak mudah bagi Ismail. Menarik kembali alat-alat kerja dari KIA Ladong jelas membutuhkan biaya besar, sama seperti saat mengerahkan peralatan ke Ladong, di awal-awal Pemerintah Aceh merencanakan kawasan industri tersebut.

Namuh hingga saat ini, tak ada kejelasan dari PT Pembangunan Aceh (PEMA), perusahaan milik Pemerintah Aceh. Menurut Ismail, perusahaan plat merah itu tak mengerjakan tanggung jawab, seperti menyediakan air bersih, menjamin pasokan listrik, dan membangun jalan di dalam kawasan tersebut.

Sedangkan Trans, selaku investor, bertugas membangun fasilitas pendukung untuk menjadikan sebuah pusat logistik berikat. Atas dasar kesepakatan itu, Trans memasukkan alat berat ke KIA Ladong seperti eskavator, krane, forklift, genset, kontainer dan personel operator dari Regional Hub Trans Continent di Tanjung Morawa Sumatera Utara. Bahkan Trans mengimpor langsung Reach Stacker seharga Rp 6 miliar.

Semua pengeluaran ini juga masih ditambah dengan tetap membayar cicilan plus overhead untuk operasional. Setiap bulan, perusahaan harus mengeluarkan uang sebesar Rp 600 juta.

Belum lagi ditambah dengan depresiasi hingga kerusakan secara alamiah karena lokasi yang sangat tidak begitu kondusif. “Kami telah berinvestasi pada sejumlah peralatan. Kami harus menanggung biaya pemeliharaan, depresiasi dan menggaji karyawan,” ungkap Ismail.

Ismail juga mengatakan keterlambatan operasional ini membuat reputasi perusahaan mereka tidak baik di kalangan investor. Ismail menyebutkan, jumlah investasi Trans Continent di Aceh sejauh ini baik di KIA Ladong, Aceh Besar dan KEK Arun Lhokseumawe, mencapai Rp 30 miliar lebih dalam bentuk alat kerja, infrastruktur, human investment serta berbagai kebutuhan lainnya.

“Tetapi, khusus di KIA Ladong, alat yang diinvestasikan sejak enam bulan lalu itu sampai hari ini belum bisa bekerja,” kata Ismail. Pihaknya lantas menyurati Direktur PT PEMA dan menyampaikan rencana penarikan alat kerja tersebut dari KIA Ladong.

Menurut Ismail, perusahaan memang sudah mempersiapkan kondisi terburuk sebelum memutuskan untuk berinvestasi di Ladong. Menurut Ismail, ini adalah komitmennya berpartisipasi dalam membangun Aceh. Namun, hal ini tidak bisa dilakukannya sendiri. Ismail membutuhkan sinergi dengan masyarakat dan dukungan pemerintah .

“Jika pun belum berhasil, jelas itu bukan berasal dari kami. Ini semua karena pemerintah belum menginginkan dan tidak mendukung. Saya anggap semua yang telah kami lakukan ini sebagai wakaf,” kata Ismail. “Yang saya dengar, ada pejabat di level tinggi yang tidak menginginkan Trans Continent berinvestasi di Aceh.”

Zubir Sahim, pelaksana tugas Direktur PT Pembangunan Aceh, tidak membalas permintaan konfirmasi terkait mundurnya Trans dari Ladong.

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah, saat meresmikan Pusat Logistik Berikat dan Pergudangan Terpadu milik Trans Continent di Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, berharap keberadaan perusahaan itu menjadi lokomotif untuk menarik perusahaan-perusahaan lain berinvestasi di di Aceh.

“Terutama perusahaan penanaman modal asing (PMA),” kata Nova, akhir Agustus tahun lalu.

Trans Continent, kata Nova, diharap menjadi pemantik bagi perusahaan lain untuk melihat bahwa KIA Ladong sangat efektif sebagai lokasi investasi. Apalagi, kata Nova, posisi strategis KIA Ladong diyakini sangat menguntungkan investor.

Sedangkan pemerintah bakal membangun infrastruktur pendukung sebagai tanggung jawab pemerintah kepada para investor. Nova berharap, KIA Ladong berkembang, “obsesi kami, menurunkan angka kemiskinan bisa dimulai dari sini.”

Humas Pemerintah Aceh, Iswanto, tidak menanggapi permintaan konfirmasi rmolaceh terkait hal ini. Telepon dan pesan singkat ke nomor teleponnya tidak dijawab. Yang jelas, keinginan Nova itu seperti mimpi di siang bolong.[r]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here