Gerai PDAM Tirta Daroy. Foto: ist

rmolaceh Kepala Ombudsman Aceh Taqwaddin Husin mengungkapkan banyak keluhan warga Banda Aceh terkait minimnya volume air bersih yang mengalir ke rumah mereka. Namun, kata dia, keluhan itu tidak disampaikan secara langsung ke kantor Ombudsman.

“Diskusi tentang PDAM Tirta Daroy kali ini menarik bagi kami,” kata Taqwaddin, pada diskusi via video konferensi “Menyoal Masalah PDAM” yang menghadirkan narasumber Farid Nyak Umar; Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota Banda Aceh, dan T Novrizal Aiyub; Direktur PDAM Tirta Daroy.

Menurut Farid, masih banyak warga yang kesulitan mengakses air bersih di Banda Aceh. DPRK mencatat, PDAM Tirta Daroy membangun jaringan pipa sepanjang 1.500 kilometer untuk sambungan rumah ke 63 ribu pelanggan.

“Sehingga kita berharap PDAM dapat memberikan pelayanan yang maksimal berupa kualitas, kuantitas, kontiniunitas, dan keterjangkauan bagi masyarakat,” kata Farid. “DPRK mengapresiasi kerja PDAM selama ini lebih baik dibandingkan masa lalu.”

Farid juga menyarankan agar PDAM Tirta Daroy mendistribusikan air siap minum dan halal, melaksanakan survei kepuasan pelanggan, serta membenahi sisi manajerial dan sumber daya manusia.

Menurut Aiyub, manajemen PDAM Tirta Daroy merespons cepat setiap keluhan warga. Namun Aiyub tak memungkiri masih bayak kekurangan dalam kualitas pelayanan. Aiyub mengungkapkan, tidak maksimalnya aliran air yang keluar dari kran pelanggan karena ukuran pipa yang kecil.

“Instalasi yang kita gunakan 70 persen masih instalasi dasar tahun 1975. Pipanya berukuran kecil. Sehingga proses aliran air agak lambat,” kata Aiyub.

Penyebab lain adalah kebocoran pipa di jalan-jalan dan termasuk penggunaan pompa hisab oleh pelanggan. Akibatnya, di daerah yang jauh dari sumber air, volume air berkurang. Hal ini, kata Aiyub, terjadi di kawasan Lampineung, Lampulo, Meuraxa.

Aiyub juga menegaskan bahwa operasional perusahaan yang dipimpinnya sangat bergantung pada listrik yang dialirkan oleh PT PLN. Saat aliran listrik mati, maka proses distribusi air juga terhenti. Untuk menggunakan jalur premium, Aiyub mengatakan belum mendapati harga yang pas.

Di ujung acara, Taqwaddin mengapresiasi pembenahan dan inovasi yang dilakukan PDAM. Salah satunya adalah membuka gerai di Mall Pelayanan Publik (MPP) Kota Banda Aceh.

“Kami berharap kepada masyarakat agar langsung melaporkan kepada PDAM jika ada kendala atau keluhan yang dialami,” kata Taqwaddin.[r]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here