Profesor Warul Walidin, Rektor UIN Arraniry. Foto: ist

rmolaceh Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas Komisariat Provinsi Aceh menyayangkan upaya Profesor Warul Walidin, Rektor Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, menjegal Profesor Syahrizal Abbas. Sedianya, Syahrial dinyatakan lulus oleh panitia seleksi pada tahap administrasi untuk dicalokan sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh.

Menurut Wakil Ketua IKAL Komprov Aceh Otto Syamsuddin Ishak, Aceh mempunyai posisi strategis dalam konstelasi nasional. Kekhususan Aceh dalam koridor syariat Islam juga membutuhkan kepemimpinan kuat dan berwawasan nasional di Kanmenag.

“Oleh karena itu, kebijakan Profesor Warul Walidin selaku Rektor UIN Ar-Raniry mencerminkan (dirinya) tidak memiliki wawasan nasional,” kata Otto Syamsuddin, Jumat, 8 Mei 2020.

Otto menilai kebijakan Warul dapat dianggap sebagai intervensi terhadap independensi Tim Panitia Seleksi JPT Kementerian Agama. Hal ini juga menunjukkan bahwa tim pansel tidak independen. Menteri Agama, kata Otto, seharusnya memberikan perhatian khusus dalam menyelesaikan masalah ini.

Terganjalnya langkah Syahrizal Abbas menuju kursi Kepala Kanwil Kemenag Aceh karena adanya surat dari Rektor UIN Ar-Raniry. Forum Dewan Guru Besar UIN Ar-Raniry bahkan mengeluarkan pernyataan sikap dan menyampaikannya kepada Menteri Agama RI.

Para dewan guru besar UIN Ar-Raniry khawatir pembatalan ini menimbulkan gejolak di masyarakat dan mahasiswa UIN Ar-Raniry. Dua hal ini jelas merugikan UIN Arraniry.

Karena itu, mereka berharap Menteri Agama, khususnya Panitia Seleksi Pengadaan JPT Pratama Kementerian Agama Tahun 2020, untuk meninjau kembali dan mencabut surat pembatalan kelulusan seleksi administrasi terhadap Profesor Syahrizal Abbas.

Menteri Agama juga diminta untuk memperhatikan kondisi UIN Arraniry. Hingga saat ini, para guru besar itu menilai lembaga pendidikan ini lebih banyak menghasilan pelanggaran ketimbang prestasi.

11 guru besar yang meneken surat pernyataan tersebut adalah Profesor A Hamid Sarong, Profesor Al Yasa Abubakar, Profesor Eka Srimulyani, Profesor Farid Wajdi Ibrahim, Profesor Jamaluddin Idris, Profesor M Hasbi Amiruddin, Profesor Misri A Mukhsin, Profesor Nazaruddin, Profesor Rusydi Ali Muhammad, Profesor Syamsul Rijal, dan Profesor Syahrizal Abbas. [r]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here